SEMANGAT

Jangan menyerah atas hal yang kamu anggap benar meskipun terlihat mustahil. Selama ada kemauan dan usaha, Tuhan kan berikan jalan untuk kita.

Senin, 26 Maret 2012

Kajian Nilai Edukatif


KAJIAN NILAI EDUKATIF DALAM NOVEL LASKAR PELANGI KARYA ANDREA HIRATA

Dosen Pengampu: Drs. Gatot Sarmidi M.Pd,



logo univ.jpg



Oleh :

ANDHIKA NUGROHO









PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG
2012


Abstrak: Kajian novel ini secara umum bertujuan untuk mendiskripsikan nilai-nilai edukatif yang terdapat dalam novel Laskar Pelangi yang mana secara khusus agar nantinya kajiab ini mampu memberikan manfaat yaitu dengan tujuan  untuk mendeskripsikan nilai-nilai edukatif yang terdapat dalam novel Laskar Pelangi karya Andra Hirata, serta bagaimana cara pengarang menyampaikan nilai-nilai edukatif dalam novel Laskar Pelangi ini.
Pengantar
Nilai-nilai edukatif merupakan nilai-nilai pendidikan yang di dalamnya mencakup sikap individu dalam kehidupan pribadi, kehidupan sosial, dan kehidupan yang berhubungan dengan Tuhan. Berbagai penanaman nilai edukatif melalui pendekatan moral dilakukan dengan berbagai cara, baik formal maupun nonformal.
Karya sastra pun dapat dijadikan sebagai sarana penanaman nilai edukatif yang dapat dimanfaatkan oleh pembaca, karena karya sastra merupakan refleksi permasalahan kehidupan yang diungkapkan kembali oleh pengarang melalui tokoh-tokoh cerita. Dengan demikian penggalian nilai-nilai edukatif karya sastra perlu dilakukan mengingat penyampaian nilai edukatif dalam sastra tidak selalu secara langsung. Fenomena tersebut menarik perhatian kita untuk melakukan penelitian.
Kajian novel ini secara umum bertujuan untuk mendiskripsikan nilai-nilai edukatif yang terdapat dalam novel Laskar Pelangi yang mana secara khusus agar nantinya kajiab ini mampu memberikan manfaat yaitu dengan tujuan  untuk mendeskripsikan nilai-nilai edukatif yang terdapat dalam novel Laskar Pelangi karya Andra Hirata, serta bagaimana cara pengarang menyampaikan nilai-nilai edukatif dalam novel Laskar Pelangi ini.
Sebelum menjelaskan adanya nilai-nilai edukatif dalam novel ini, maka terlebih dahulu akan dijabarkan sekelumit tentang isi dari novel ini, Dikisahkan, anak-anak Laskar Pelangi hidup di kondisi yang dapat dibilang kurang layak. Tetapi dari situ, pada setiap anak memiliki kelebihan masing-masing. Lintang misalnya, teman sebangku si Ikal, ia berasal dari keluarga nelayan yang miskin, terpencil. Dari rumahnya sampai sekolah, ia harus mengayuh sepeda orang dewasa sejauh 80 Km, belum lagi apabila musim hujan atau hadangan buaya dalam perjalanan berangkat ke sekolah. Dan hebatnya lagi, ia tidak pernah tidak masuk sekolah. Walaupun begitu, Lintang ini memiliki otak yang luar biasa genius asli didikan alam. Pernah suatu ketika di lomba cerdas cermat ia mendebat seorang guru fisika ternama tentang salah satu soal dari lomba tersebut. Dan akhirnya ia memenangkan perdebatan itu, sang guru kalah telak. Lalu ada lagi Mahar. Bakat seninya luar biasa. Dialah yang berhasil mengantarkan teman-teman dan nama sekolahnya menjurarai lomba karnaval 17 Agustus, mematahkan rekor sekolah besar yang sudah 20 tahun berturut-turut menang. Tapi sayangnya ia keblinger akan hal-hal yang berbau mistik, paranormal, klenik, dan segala hal yang berhubungan tentangnya. Apalagi setelah datangnya anggota baru Laskar Pelangi, seorang gadis manis bernama Flo, yang sama seperti Mahar, menyukai hal-hal klenik. Maka lengkaplah jadinya.
Ikal sendiri tidak terlalu menonjol, tapi ia memiliki prestasi di bidang olahraga bulutangkis. Banyak prestasi yang telah ia miliki di bidang tersebut. Selain itu ia juga pandai menulis puisi. Ikal menemukan cinta pertamanya di sebuah toko kelontong. Aku beberapa kali tertawa membaca cerita di bagian ini, seru. Sampai pada akhirnya sang cinta pertama itu pergi meniggalkannya. Tetapi dari perpisahan tersebut, Ikal menemukan seperti suatu semangat baru dalam menjalani hidup, menemukan hal baru sebagai “pelampiasan” yang positif dari keterpurukannya karena ditinggal sang cinta pertamanya. Dan hal itulah yang membuatnya terus bersemangat.
Endingnya juga bagus. Sebagian besar anggota Laskar Pelangi setelah dewasa mereka sudah “jadi orang”. Ada juga yang menikah dengan teman sesama anggota Laskar Pelangi. Lucu, tapi sangat menggugah. Disinilah akhirnya, dengan semangat dan usaha yang kuat maka segala apa yang kita ingin capai Insya Allah dapat terwujud.



  Kajian Nilai Edukatif Novel ’Laskar Pelangi’
Novel ’Laskar Pelangi’ karya novelis Andrea Hirata ini memang merupakan sebuah karya yang mencengangkan, sebagai karya pertama yang ditulis seseorang yang tidak berasal dari lingkungan sastra, dan tidak tunduk pada selera pasar. Kelebihan novel ’Laskar Pelangi’adalah pada aspek cerita yang diangkat dari kehidupan nyata sedangkan novel yang sekarang sering muncul biasanya hanyalah sebuah novel yang menceritakan tentang percintaan dan ekspose seksualitas tetapi tidak pada novel ’Laskar Pelangi’). Novel ini mengisahkan sepuluh anak kampung di Pulau Belitong, Sumatera Selatan, mereka bersekolah di sebuah SD Muhammadiyah di Belitong yang bangunannya hampir rubuh dan di malam hari menjadi kandang ternak. Sekolah itu hampir ditutup karena muridnya tidak sampai sepuluh sebagai persyaratan minimal.
Banyak hal yang bisa dipetik dari membaca novel tersebut. Andrea juga membawa kita ke dalam emosi ketika membacanya (beneran!), ya asal kita membacanya niat. Aku sempat beberapa kali tertawa, senyum-senyum, dan sempat juga merinding. Aku banyak setuju dengan hal-hal yang dituliskan Andrea. Terutama ketika ia menceritakan tentang Perguruan Muhammadiyah yang mengarahkan generasinya ke arah yang Islami, diridhoi Allah SWT. Terutama dalam hal pola pikir, akhlak, budi pekerti. Dan itu aku rasakan sejak bersekolah di SD Muhammadiyah.
Keberuntungan atau lebih tepatnya takdir, masih berpihak pada sepuluh anak kampung Pulau Belitong tersebut, sebelum sekolah tersebut ditutup, ada salah satu siswa yang bernama Harun mendaftarkan diri. Akhirnya, sekolah ini tetap eksis dan bisa terus melanjutkan pendidikannya untuk anak-anak Belitong.
Kelebihan yang dimiliki pengarang (Andrea Hirata) di dalam karya-karyanya yaitu dari segi stilistik yang menarik, mengungkapkan setiap kejadian secara sistematis, terarah dan kronologis, sehingga penulis tertarik untuk mengkaji masalah-masalah yang terdapat di dalam novel tersebut.

Melihat dari berbagai hal yang telah dijabarkan di atas mka lahirlah beberapa nilai-nilai edukatif yang timbul pada saat terjadi kesenjangan perekonomian dan kemiskinan membawa tokoh-tokoh dalam novel ini, anak-anak sekolah yang serba kekurangan tetapi memiliki sumber inspirasi yang kuat yang terjelma pada guru-gurunya. Inspirasi ini menjadi motivasi membentuk pribadi yang mandiri dan menjadi sarana mencapai cita-citanya. Perekonomian dan kemiskinan yang menjadi inti novel tersebut. Kesenjangan ini mendorong semangat kaum muda yang mencintai tanah kelahirannya, Belitong untuk belajar dengan penuh ketekunan. Adanya semangat para tokoh yang ada dalam novel ini terlihat pada kutipan novel berikut:
Aku juga merasa cemas. Aku cemas karena melihat Bu Mus yang resah dan karena beban perasaan ayahku menjalar ke sekujur tubuhku. Meskipun beliau begitu ramah pagi ini tapi lengan kasarnya yang melingkari leherku mengalirkan degup jantung yang cepat. Aku tahu beliau sedang gugup dan aku maklum bahwa tak mudah bagi seorang pria beruisa empat puluh tujuh tahun, seorang buruh tambang yang beranak banyak dan bergaji kecil, utnuk menyerahkan anak laki-lakinya ke sekolah. Lebih mudah menyerahkannya pada tauke pasar pagi untuk jadi tukang parut atau pada juragan pantai untuk menjadi kuli kopra agar dapat membantu ekonomi keluarga. Menyekolahkan anak berarti mengikatkan diri pada biaya selama belasan tahun dan hal itu bukan perkara gampang bagi keluarga kami.
Pada novel ini terdapat seorang tokoh yang bernama ’Lintang’, tokoh ini merupakan tokoh yang sering muncul dalam tiap adegan novel ini serta dia juga memberikan contoh betapa tangguhnya dia dalam menghadapi hari-harinya meskipun dia harus mengayuh sepeda dengan jarak yang sangat jauh hanya untuk dapat bersekolah dan mencari ilmu, besarnya semangat Lintang ini terdapat dalam kutipan berikut,
Tidak seperti kebanyakan nelayan, nada bicaranya pelan. Lalu beliau bercerita pada Bu Mus bahwa kemarin sore kawanan burung pelintang pulau mengunjungi pesisir. Burung-burung keramat itu hinggap sebentar di puncak pohon ketapang demi menebar pertanda bahwa laut akan diaduk badai. Cuaca cenderung semakin memburuk akhir-akhir ini maka hasil melaut tak pernah memadai. Apalagi ia hanya semacam petani penggarap, bukan karena ia tak punya laut, tapi karena ia tak punya perahu.
Agaknya selama turun temurun keluarga laki-laki cemara angin itu tak mampu terangkat dari endemik kemiskinan komunitas Melayu yang menjadi nelayan. Tahun ini beliau menginginkan perubahan dan ia memutuskan anak laki-laki tertuanya, Lintang, tak akan menjadi seperti dirinya. Lintang akan duduk di samping pria kecil berambut ikal yaitu aku, dan ia akan sekolah di sini lalu pulang pergi setiap hari naik sepeda. Jika panggilan nasibnya memang harus menjadi nelayan maka biarkan jalan kerikil batu merah empat puluh kilometer mematahkan semangatnya. Bau hangus yang kucium tadi ternyata adalah bau sandal cunghai, yakni sandal yang dibuat dari ban mobil, yang aus karena Lintang terlalu jauh mengayuh sepeda.
 Nilai edukatif lain dapat terlihat jelas pada saat terjadi kemiskinan dan perekonomian yang mendera tokoh dalam novel ini, pada satu sisi terdapat sebuah sekolah khusus yang dibentengi dengan tembok tinggi bagi karyawan PN Timah yang menyediakan sarana-prasarana pendidikan memadai, fasilitas yang lengkap, dan kehidupan yang layak, sedangkan SD Muhammadiyah tidak mempunyai semua fasilitas yang dimiliki oleh sekolah PN Timah, semangat anak-anak kampung miskin tersebut untuk berjuang dengan gigihnya agar dapat belajar tidak pernah padam walaupun dalam keadaan yang serba terbatas. Mereka bersekolah tanpa alas kaki, baju tanpa kancing, atap sekolah yang bocor jika hujan, dan papan tulis yang berlubang sehingga terpaksa ditambal dengan poster Rhoma Irama. Gambaran tentang kondisi sekolah ini terdapat pada kutipan novel berikut,
Tak susah melukiskan sekolah kami, karena sekolah kami adalah salah satu dari ratusan atau mungkin ribuan sekolah miskin di seantero negeri ini yang jika disenggol sedikit saja oleh kambing yang senewen ingin kawin, bisa rubuh berantakan.
Kami memiliki enam kelas kecil-kecil, pagi untuk SD Muhammadiyah dan sore untuk SMP Muhammadiyah. Maka kami, sepuluh siswa baru ini bercokol selama sembilan tahun di sekolah yang sama dan kelas-kelas yang sama, bahkan susunan kawan sebangku pun tak berubah selama sembilan tahun SD dan SMP itu.
Kami kekurangan guru dan sebagian besar siswa SD Muhammadiyah ke sekolah memakai sandal. Kami bahkan tak punya seragam. Kami juga tak punya kotak P3K. Jika kami sakit, sakit apa pun: diare, bengkak, batuk, flu, atau gatal-gatal maka guru kami akan memberikan sebuah pil berwarna putih, berukuran besar bulat seperti kancing jas hujan, yang rasanya sangat pahit. Jika diminum kita bisa merasa kenyang. Pada pil itu ada tulisan besar APC. Itulah pil APC yang legendaris di kalangan rakyat pinggiran Belitong. Obat ajaib yang bisa menyembuhkan segala rupa penyakit.
Tokoh Bu Muslimah yang menjadi guru pada film yang penuh inspirasi di Laskar Pelangi ini ternyata mampu menggelitik semangat Hajar Wati untuk mengajar di daerah pelosok. Wisudawan terbaik Universitas Wisnuwardhana (Unidha) kelahiran 6 Oktober 1981 ini ingin terus mengabdikan dirinya pada dunia pendidikan, namun ada sesuatu yang membuatnya khawatir dalam duni pendidikan saat ini, yakni perkembangan pendidikan moral yang kian pudar. sesungguhnya pendidikan akan hilang maknanya jika moral tak lagi mengikuti. Apalagi kita bangsa yang menjunjung tinggi budaya dengan beragam nilai moral bermasyarakat. Semangat menerima pendidikan itu yang sekarang pudar. Tidak banyak murid bersekolah karena ingin menuntut ilmu. Mereka bersekolah karena tuntutan jaman, penggambaran karakter Bu Mus terlihat jelas pada kutipan berikut:
N.A. Muslimah Hafsari Hamid binti K.A. Abdul Hamid, atau kami memanggilnya Bu Mus, hanya memiliki selembar ijazah SKP (Sekolah Kepandaian Putri), namun beliau bertekad melanjutkan cita-cita ayahnya—K.A. Abdul Hamid, pelopor sekolah Muhammadiyah di Belitong—untuk terus mengobarkan pendidikan Islam. Tekad itu memberinya kesulitan hidup yang tak terkira, karena kami kekurangan guru—lagi pula siapa yang rela diupah beras 15 kilo setiap bulan? Maka selama enam tahun di SD Muhammadiyah, beliau sendiri yang mengajar semua mata pelajaran—mulai dari Menulis Indah, Bahasa Indonesia, Kewarganegaraan, Ilmu Bumi, sampai Matematika, Geografi, Prakarya, dan Praktik Olahraga. Setelah seharian mengajar, beliau melanjutkan bekerja menerima jahitan sampai jauh malam untuk mencari nafkah, menopang hidup dirinya dan adik-adinya.
BU MUS adalah seroang guru yang pandai, karismatik, dan memiliki pandangan jauh ke depan. Beliau menyusun sendiri silabus pelajaran Budi Pekerti dan mengajarkan kepada kami sejak dini pandangan-pandangan dasar moral, demokrasi, hukum, keadilan, dan hak-hak asasi—jauh hari sebelum orang-orang sekarang meributkan soal materialisme versus pembangunan spiritual dalam pendidikan. Dasar-dasar moral itu menuntun kami membuat konstruksi imajiner nilai-nilai integritas pribadi dalam konteks Islam. Kami diajarkan menggali nilai luhur di dalam diri sendiri agar berperilaku baik karena kesadaran pribadi. Materi pelajaran Budi Pekerti yang hanya diajarkan di sekolah Muhammadiyah sama sekali tidak seperti kode perilaku formal yang ada dalam konteks legalitas institusional seperti sapta prasetya atau pedoman-pedoman pengalaman lainnya.
“Shalatlah tepat waktu, biar dapat pahala lebih banyak,” demikian Bu Mus selalu menasihati kami.
Nilai-nilai edukatif juga terdapat pada diri sosok Pak Harfan, beliau adalah seorang yang mempunyai kepribadian luhur dan terpuji, sehingga mempunyai kewibawaan yang sangat tinggi di mata anak-anak didiknya dan juga sangat dihormati oleh Bu Mus, perhatikan kutipan novel di bawah ini,
Pak Harfan, seperti halnya sekolah ini, tak susah digambarkan. Kumisnya tebal, cabangnya tersambung pada jenggot lebat berwarna kecokelatan yang kusam dan beruban. Hemat kata, wajahnya mirip Tom Hanks, tapi hanya Tom Hanks di dalam film di mana ia terdampar di sebuah pulau sepi, tujuh belas bulan tidak pernah bertemu manusia dan mulai berbicara dengan sebuah bola voli. Jika kita bertanya tentang jenggotnya yang awut-awtuan, beliau tidak akan repot-repot berdalih tapi segera menyodorkan sebuah buku karya Maulana Muhammad Zakariyya Al Kandhallawi Rah,R.A. yang berjudul Keutamaan Memelihara Jenggot. Cukup membaca pengantarnya saja Anda akan merasa malu sudah bertanya.
K.A. pada nama depan Pak Harfan berarti Ki Agus. Gelar K.A. mengalir dalam garis laki-laki silsilah Kerajaan Belitong. Selama puluhan tahun keluarga besar yang amat bersahaja ini berdiri pada garda depan pendidikan di sana. Pak Harfan telah puluhan tahun mengabdi di sekolah Muhammadiyah nyaris tanpa imbalan apa pun demi motif syiar Islam. Beliau menghidupi keluarga dari sebidang kebun palawija di pekarangan rumahnya.
Kalau pada penjelasan sebelumnya hanyalah gambaran tentang nilai edukatif yang berkaitan dengan unsur individu, maka dalam novel ini juga terdapat tentang penggambaran nilai edukatif yang seharusnya dimiliki oleh seorang guru, sikap seorang guru yang penyayang, lemah lembut dan mempunyai kepribadian yang agung ditampakkan pada diri Pak Harfan dalam membimbing aanak didiknya, sikap-sikap  Pak Harfan ini termaktub dalam potongan novel berikut:
Ketika mengajukan pertanyaan beliau berlari-lari kecil mendekati kami, menatap kami penuh arti dengan pandangan matanya yang teduh seolah kami adalah anak-anak Melayu yang paling berharga. Lalu membisikkan sesuatu di telinga kami, menyitir dengan lancar ayat-ayat suci, menantang pengetahuan kami, berpantun, membelai hati kami dengan wawasan ilmu, lalu diam, diam berpikir seperti kekasih merindu, indah sekali.
Beliau menorehkan benang merah kebenaran hidup yang sederhana melalui katakatanya yang ringan namun bertenaga seumpama titik-titik air hujan. Beliau mengobarkan semangat kami utnuk belajar dan membuat kami tercengang dengan petuahnya tentang keberanian pantang menyerah melawan kesulitan apa pun. Pak Harfan memberi kami pelajaran pertama tentang keteguhan pendirian, tentang ketekunan, tentang keinginan kuat untuk mencapai cita-cita. Beliau meyakinkan kami bahwa hidup bisa demikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai dengan keikhlasan berkorban untuk sesama. Lalu beliau menyampaikan sebuah prinsip yang diam-diam menyelinap jauh ke dalam dadaku serta memberi arah bagiku hingga dewasa, yaitu bahwa hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.
Seperti itulah gambaran tentang nilai-nilai edukatif yang terdapat dalam novel ini dengan beberapa nilai plus yang ditampaakan setiap tokoh dalam novel ini, hampi rsikap dan perilaku dari novel ini dapat memberikan nilai edukatif terhadap kita semua, mulai dari pelajaran nilai edukatif terhadap para pelajar yang selalu dituntut untuk mempunyai semangat yang tinggi, untuk para pengajar yang diharuskan memiliki karakter mengajar seperti yang ditampaakan Pak Harfan, sampai pada nilai edukatif terhadap jajaran pemerintahan yang dituntut untuk lebih memperhatikan sistem pendidikan yang ada di negara kita.
Kehadiran novel ini berhasil lebih karena momentum yang tepat, yaitu saat bangsa ini perlu bahan bacaan pembangkit semangat. Nilai moral yang begitu sarat dalam novel ini seolah menjadi teladan di tengah kemiskinan panutan masyarakat kita. Ditambah lagi penerbit Bentang yang merupakan grup Mizan mampu mendapatkan pujian dari begitu banyak tokoh terkenal. Tokoh mana yang, jujur saja, saya tidak yakin sempat membaca kata-perkata dari buku ini. Toh, buku ini bagaimanapun tetap fenomenal. Penerbitannya mengejutkan banyak kalangan karena berhasil memberikan penggambaran lugas mengenai kondisi sesungguhnya dunia pendidikan kita. Kondisi yang sempat membuat berang Wapres Jusuf Kalla saat seorang guru menghadiahinya puisi bernada protes di tahun 2007 lalu. Selain itu, buku ini telah memberi kesejahteraan bagi banyak orang. Terutama tentu saja bagi penerbit dan pengarangnya. Juga bagi para tokoh yang menjadi inspirasi penulisannya. Ibu Muslimah misalnya, mendapatkan hadiah mobil dari ibu Ani Yudhoyono karena beliau mengetahuinya dari Kick Andy. Sebuah pertanda bagus bagi dunia perbukuan di Indonesia tentunya.
Kesimpulan
Secara umum dapat disimpulkan bahwa dalam novel Laskar Pelangi karya Andra Hirata terdapat nilai-nilai edukatif yang pada intinya mengajarkan agar manusia senantiasa menanamkan dan mengimplementasikan nilai-nilai edukatif dalam kehidupan pribadi, sosial, dan hubungannya dengan Tuhan.
Berdasarkan hasil penjabaran di atas, ada beberapa kalimat yang diperoleh berkaitandengan nilai-nilai edukatif yang meliputi
v  Nilai-nilai edukatif yang dikembangkan dalam kehidupan pribadi, (b) nilai-nilai edukatif yang dikembangkan dalam kehidupan sosial.
v  Nilai-nilai edukatif yang berhubungan dengan Tuhan,
v  Cara penyampaian nilai edukatif melalui dialog, monolog, dan narasi tokoh dalam cerita.
Berkaitan dengan sastra hasil penelitian ini bisa digunakan sebagai bahan pengajaran apresiasi prosa fiksi dalam kajian edukatif karya sastra yang meliputi nilai edukatif dalam hubungannya dengan pribadi, nilai edukatif yang berhubungan dengan sosial, dan nilai edukatif yang berhubungan dengan Tuhan. Bagi peneliti objek yang sama, disarankan dapat dikembangkan lebih lanjut terutama pada nilai-nilai kehidupan yang multidimensi seperti nilai sosial ekonomi dan nilai sosial politik agar lebih komprehensif



Daftar Pustaka


Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. 2002.
Hirata Andrea. 2005. Laskar Pelangi: Yogyakarta:Bentang Pustaka.
Luxemburg, Jan van, Mieke Bal, Willem G. Weststeijn, penerjemah Dick Hartoko. Pengantar Ilmu Sastra, Jakarta: Intermasa, 1989.
Tarigan, Guntur Henry. 1984. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.
Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Gadjah Mada University Press: Yoryakarta.
Tim Penyusun. 2002. PR Bahasa Indonesia Kelas I SMU Tengah Tahun Kedua. Intan Pariwara: Klaten.
Kadaryati. 2001. Analisis Tema, Fakta Cerita dan Sarana Sastra Tanah Gersang Karya Mochtar Lubis. Fakultas Budaya Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta.
Luxemburg, Jan van, Mieke Bal, Willem G. Weststeijn, penerjemah Akhadiati Ikram. Tentang Sastra, Jakarta: Intermasa, 1991.
Daroeso, Bambang. 1989. Dasar dan Konsep Pendidikan Moral Pancasila.Semarang: Aneka Ilmu.
Sumardjo, Jacob dan Saini, K.M. 1988. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta:Gramedia.





Biodata Penyusun

Nama               : Andhika Nugroho
Tetala              : Malang, 01 Juli 1989
Alamat            : Pasuruan, Jawa Timur
Anak Ke          : 2 dari 4 bersaudara

Riwayat Pendidikan
1.      SDN 1 Gentong (lulus tahun 2001)
2.      SMPN 1 Pasuruan (lulus tahun 2004)
3.      SMAN 1Pasuruan (lulus tahun 2007)
Tercatat sebagai mahasiswa aktif Univeritas Kanjuruhan Malang jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai menempuh S1

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar