SEMANGAT

Jangan menyerah atas hal yang kamu anggap benar meskipun terlihat mustahil. Selama ada kemauan dan usaha, Tuhan kan berikan jalan untuk kita.

Senin, 26 Maret 2012

PENELITIAN STUDI KASUS


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
               Dunia pendidikan merupakan salah satu faktor penting penunjang kehidupan bangsa.  Dalam rangka menyelenggarakan pendidikan disekolah, guru memegang peranan yang sangat penting, bukan hanya sebagai fasilitator melainkan sebagai seorang pendidik harus dapat membimbing dan mengarahkan anak didik menurut minat dan bakat siswa tersebut. Sesuai dengan tujuan khusus pendidikan di sekolah, antara lain moral: memiliki kesadaran akan disiplin: memiliki inisiatif, daya kreatif, sikap kritis, nasional dan obyektif dalam memecahkan persoalan: menghargai setiap  jenis pekerjaan dan prestasi kerja di masyarakat: memiliki kesadaran menghargai waktu.
               Keberadaan siswa yang berasal dari lingkungan dan latar belakang yang berbeda, masalah yang dihadapi tentunya berbeda pula. Kompleksnya permasalahan yang dihadapi oleh siswa diantaranya masalah ekonomi, fasilitas, kesehatan, agama sosialisasi, adaptasi, dll. Permasalahan ini akan menghambat dan menimbulkan kesulitan dalam proses belajar di sekolah maupun di rumah, sehingga akan berdampak negatif pada prestasi siswa di kelas.
               Berdasarkan hal tersebut maka perlu diberikan praktek layanan bimbingan untuk siswa di sekolah. Disamping itu untuk memenuhi instrumen penilaian praktek pengalaman lapangan (PPL). Adapun tujuan dari praktek layanan bimbingan siswa adalah untuk membantu siswa dalam memberikan solusi atau pemecahan terhadap permasalahan yang dihadapi agar tidak mengganggu proses belajar di sekolah maupun di rumah. Dalam hal ini pihak guru, Konselor (BK), wali kelas dan kepala sekolah perlu dilibatkan agar praktek layanan bimbingan siswa dapat berjalan dengan efektif.
               Untuk menghadapi hal tersebut diatas mahasiswa (PPL) sebagai calon guru perlu dibekali pengetahuan, sikap, keterampilan untuk mempelajari layanan bimbingan siswa, pencarian data atau identitas yang relevan, identitas kasus, mendiagnosis, yang pada akhirnya mencoba memberikan dan mencari alternatif solusi atau pemecahan masalah pada siswa.
               Pendidikan merupakan hal yang penting dalam kehidupan manusia, karena  dengan pendidikan manusia dapat mengembangkan segala aspek yang dimilikinya termasuk di dalamnya adalah aspek kepribadian.
               Dalam dunia pendidikan, proses  belajar mengajar melibatkan beberapa komponen yang saling berkaitan yang pada dasarnya akan menunjukkan hasil yang berbeda-beda pada siswa. Komponen-komponen yang terlibat dalam proses belajar mengajar itu meliputi: guru, siswa, kurikulum, alat dan sumber belajar, materi pembelajaran maupun metode dan evaluasi. Masing-masing komponen itu saling berhubungan dan berkaitan secara erat sehingga apabila salah satu komponen tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya, hal ini dapat berakibat terganggunya proses belajar mengajar tersebut.
               Dalam pelaksanaan proses pendidikan setiap siswa pasti mengalami permasalahan-permasalahan yang timbul, baik yang berasal dari guru maupun yang berasal dari siswa sendiri. Permasalahan itu timbul karena berbagai faktor dan belum tentu setiap siswa bisa memecahkan sendiri permasalahannya. Oleh karena itu, tugas guru selain sebagai pendidik juga sebagai pembimbing. Sebagai seorang pembimbing guru harus mampu mengarahkan dan membantu menyelesaikan permasalahan siswanya. Tugas guru Bimbingan dan Konseling yaitu membantu siswa untuk mengatasi permasalahan dan hambatan dalam perkembangan siswa.
               Seorang guru harus mampu memahami dan mengetahui lebih dalam mengenai keadaan siswa, tingkah laku siswa, latar belakang siswa, dan kesulitan atau permasalahan yang dihadapi siswa. Hendaknya seorang guru mampu membantu mencari solusi agar siswa dapat mencapai keberhasilan dalam belajarnya. Seorang guru dalam memberikan bantuan kepada anak didiknya harus juga memperhatikan aspek-aspek yang ada pada pribadi anak tersebut, antara lain kematangannya, bakatnya, kemampuannya, lingkungannya, dan sebagainya, agar siswa yang diberi bantuan dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya secara tepat.
               Untuk mengetahui keadaaan siswa banyak metode dan pendekatan  yang dapat digunakan. Salah satunya yang dapat digunakan adalah metode studi kasus (Case Study). Dengan adanya studi kasus dapat membantu konselor sekolah memahami kondisi siswa dalam menentukan penanganan dan pemecahan masalah bagi siswa tersebut.

B.     Pengertian Layanan Bimbingan
Layanan bimbingan siswa ialah upaya untuk mengenali, memahami, dan menetapkan siswa yang mengalami kesulitan belajar dengan kegiatan mengidentifikasi, mendiagnosis, dan memberikan pertimbangan pemecahan masalah atau kesulitan yang dihadapi oleh siswa. Sehingga Guru bisa memahami dan mengerti akan kebutuhan siswa, dengan begitu Guru dapat menyelaraskan materi dengan kebutuhan siswa tersebut.
Bimbingan merupakan layanan bantuan untuk peserta didik baik secara perorangan maupun kelompok, agar mandiri dan   secara optimal, dalam bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar dan bimbingan karir melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. (Prof Dr.H.Prayitno, M.Sc.Ed, 2002)
Siswa tidak akan mampu menghadapai kompleksnya permasalahan yang mereka hadapi, baik di lingkungan rumah , sekolah, maupun masyarakat. Oleh karena itu, layanan bimbingan ini dimaksudkan sebagai usaha pemberian bantuan kepada siswa untuk mencari alternatif dan pemecahkan masalah yang dihadapi oleh siswa tersebut. Karena laporan layanan bimbingan siswa ini banyak berhubungan dengan masalah yang bersifat pribadi. Maka dalam penulisannya tidak mencantumkan identitas klien yang sebenarnya, akan tetapi menggunakan identitas samaran atau fiktif dan apabila terdapat kesamaan dengan para pembaca atau yang lain, hal itu bukan suatu kesenjangan melainkan merupakan suatu kebetulan.
Dalam kamus Psikologi (Kartono dan Gulo, 2000) menyebutkan bahwa ada 2 (dua) pengertian tentang Studi kasus (Case Study) pertama Studi kasus merupakan suatu penelitian (penyelidikan) intensif, mencakup semua informasi relevan terhadap seorang atau beberapa orang biasanya berkenaan dengan satu gejala psikologis tunggal. Kedua studi kasus merupakan informasi-informasi historis atau biografis tentang seorang individu, seringkali mencakup pengalamannya dalam terapi.
Menurut beberapa pakar dalam Psikologi dan Bimbingan Siswa, pengertian studi kasus yaitu ;
Ø  Studi kasus adalah metode pengumpulan data yang bersifat integrative dan komprehensif. Integrative artinya menggunakan berbagai teknik pendekatan dan bersifat komprehensif yaitu data yang dikumpulkan meliputi seluruh aspek pribadi individu secara lengkap (Dewa Ketut Sukardi, 1983).
Ø  Studi kasus adalah suatu teknik mempelajari seorang individu secara mendalam untuk membantu memperoleh penyesuaian diri yang lebih baik. (I.Djumhur, 1985).
Ø  Studi kasus adalah suatu metode untuk mempelajari keadaan dan perkembangan seorang murid secara mendalam dengan tujuan membantu murid untuk mencapai penyesuaian yang lebih baik (WS. Winkel, 1995).

C.    Tujuan Layanan Bimbingan
1.      Tujuan Umum
               Secara umum, tujuan dari penulisan pelaksanaan studi kasus ini adalah untuk memahami siswa secara individu dalam keunikannya dan dalam permasalahan serta hambatan dalam hidupnya. Kemudian dari pemahaman permasalahan dan hambatan dalam hidup siswa yang mendalam, dapat diketahui dan membantu siswa untuk mencapai pemecahan dan penyesuaian yang lebih baik. Tercapainya penyesuaian akademik siswa dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Tersedianya kondisi belajar yang nyaman, terperhatikannya karakteristik pribadi siswa, sehingga dapat mereduksi kemungkinan kesulitan belajar.
               Kegiatan belajar mengajar merupakan salah satu bentuk pemberian bantuan yang dilakukan oleh guru kepada siswa. Jika guru bermaksud melaksanakan pemberian bantuan itu secara tuntas dan menyeluruh, maka dia harus memahami peranan dalam upaya pemberian bantuan itu, yaitu peranannya dalam keseluruhan kegiatan pendidikan dan keseluruhan upaya bimbingan disekolah. Bimbingan merupakan upaya untuk membantu perkembangan kepribadian siswa secara optimal, maka secara umum layanan bimbingan di sekolah harus dikaitkan dengan kegiatan pendidikan, karena itu tujuan akhir bimbingan adalah mengembangkan potensi siswa agar mampu meningkatkan peranannya dalam rangka menjawab tantangan kehidupan masa depan. Tujuan bimbingan dapat dibedakan menjadi 2, yaitu tujuan sementara dan tujuan akhir. Tujuan sementara ialah supaya orang bersikap dan bertindak sendiri dalam situasi hidupnya sekarang ini. Tujuan akhir adalah supaya orang mampu mandiri, dalam hal ini dia bisa memutuskan hidupnya sendiri, mengambil sikap sendiri, mempunyai pandangan sendiri dan menanggung sendiri resikonya. Bimbingan mempunyai 2 tujuan pokok, yaitu jangka pendek dan jangka panjang. Tujuan bimbingan jangka panjang adalah suatu patokan ideal yang diharapkan dicapai murid yang telah memperoleh layanan bimbingan. Sedangkan tujuan bimbingan jangka pendek adalah seperangkat kemampuan yang diharapkan dicapai murid selama dan setelah proses bimbingan dan penyuluhan.

2.      Tujuan Khusus
               Selain tujuan umum di atas, layangan bimbingan mempunyai beberapa layanan khusus. Secara khusus, layanan bimbingan bertujuan membantu siswa agar dapat memenuhi tugas-tugas perkembangan yang meliputi aspek pribadi-sosial, pendidikan dan karier sesuai dengan tuntutan lingkungan. (Depdikbud, 1995)
               Setelah siswa memperoleh layanan bimbingan disekolah, tujuan khusus yang ingin dicapai yaitu:
a.          Siswa dapat memiliki kemampuan untuk mengatasi permasalahan dalam memahami dirinya sendiri.
b.         Siswa dapat memiliki kemampuan dalam mengatasi kesulitan dalam mengidentifikasikan dan memecahkan permasalahan yang mereka hadapi sendiri.
c.          Siswa dapat memiliki kemampuan untuk mangatasi permasalahan dalam lingkungan, baik lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
d.         Mengenal pribadi siswa, menetapkan bentuk kesulitan belajar siswa, faktor–faktor penyebab kesulitan belajar siswa, serta merumuskan beberapa cara (solusi) mengatasinya dengan baik dan realistik..
e.          Membantu siswa dalam menumbuhkan motivasi belajarnya.
f.          Membantu siswa dalam upaya mencapai prestasi belajar yang optimal.
g.         Membantu siswa agar dapat mengembangkan potensi yang ada pada diri siswa sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuan yang dimilikinya.
h.         Membantu siswa dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya (adaptasi).
        Dari uraian di atas tujuan khusus layanan bimbingan yang ingin dicapai adalah untuk meningkatkan kemampuan yang dimiliki siswa dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi.

D.    Pentingnya Layanan Bimbingan
Bimbingan disekolah bertujuan menghasilkan perubahan-perubahan positif dalam diri murid yang sedang berkembang menuju ke kedewasaannya. Bimbingan merupakan bantuan kepada individu dalam menghadapi persoalan-persoalan yang timbul dalam hidupnya, dengan demikian bimbingan menjadi bidang pelaksanaan khusus dalam keseluruhan kegiatan pendidikan sekolah. Layanan bimbingan siswa sangat penting bagi:
1.      Kepala Sekolah.
Sebagai masukan untuk memikirkan dan mengusahakan kebutuhan sarana dan prasarana untuk menunjang keberhasilan layanan bimbingan di sekolah.
2.      Wali Kelas.
Sebagai bahan referensi bagi Wali kelas untuk mengidentifikasi berbagai kebutuhan dan masalah-masalah yang dihadapi siswa dalam kelas dan mengupayakan pemecahan masalah yang harus diambil.


3.      Guru Bidang Studi.
Guru bidang studi akan lebih mudah dalam pemilihan metode yang cocok untuk diterapkan dalam proses pembelajaran.
4.      Siswa yang bersangkutan (klien).
Layanan bimbingan siswa akan membantu siswa dalam mengatasi masalah yang sedang dihadapi, baik permasalahan akademik, karier atau pribadi.
5.      Orang tua / wali.
Untuk menyongsong masa depan yang baik dan sukses layanan bimbingan akan membantu putra putrinya dalam membenahi sikap yang kurang baik.
6.      Guru PPL.
Guru PPL akan memperoleh pengalaman dalam menghadapi siswa dengan berbagi karakter yang berbeda, untuk dapat melatih keterampilan melakukan layanan bimbingan di sekolah.
Pentingnya layanan studi kasus yang diperoleh dari kegiatan penelitian ini, antara lain sebagai berikut:
Ø   Memberikan gambaran bagi guru BK dalam menangani studi kasus dengan mengetahui permasalahan pada siswa lebih mendalam lagi.
Ø   Metode pemecahan masalah yang digunakan, bisa menjadi bahan pertimbangan yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan.
Ø   Siswa yang bermasalah pada mata pelajaran matematika dapat diketahui permasalahannya dan dapat meningkatkan kualitas siswa, berani mengungkapkan pendapat, ide, pertanyaan, dan saran meningkat.
Ø   Bagi penulis, penelitian ini dapat memberikan pengalaman yang dapat dipergunakan untuk bekal mengajar setelah peneliti selesai dalam menempuh jenjang pendidikan selanjutnya.
E.      Alasan Pemilihan Objek
Penulis mempunyai beberapa alasan dan pertimbangan dalam pemilihan klien. Dalam penyusunan layanan bimbingan ini penulis sengaja memilih siswa yang bersangkutan untuk dibahas kasusnya, berdasarkan pengamatan penulis pada siswa dan tingkah lakunya baik disekolah (terutama saat berlangsungnya PBM di kelas)  maupun diluar sekolah yaitu dilingkungan masyarakat:
Ø  Di sekolah:
1.      Klien terlihat kurang bersemangat dalam mengikuti kegiatan PBM.
2.      Klien sering melamun dan murung.
3.      Klien bersifat tertutup terhadap masalah yang sedang dihadapinya.
4.      Klien Sukar menangkap pelajaran matematika dan fisika.
Dari beberapa faktor yang ada maka penulis beranggapan bahwa keadaan diatas harus segera diatasi dengan beberapa solusi yang bijak, karena jika tidak, maka akan menyebabkan kesulitan bagi klien. Berdasarkan pertimbangan prestasi siswa yang bersangkutan juga akan terganggu. Oleh karena itu penulis memilih siswa tersebut untuk dijadikan sasaran dalam pembahasan layanan bimbingan siswa ini. 

F.     Metode Pengumpulan Data
Pengumpalan data adalah penting dalam penyelidikan-penyelidikan pada umumnya, maupun dalam bimbingan dan penyuluhan. Penyuluhan baru dapat diberikan dengan baik, kalau kita telah mengetahui data disekitar individu yang akan dibimbing.
Oleh karena itu dalam bagian ini akan dikemukakan beberapa macam metode yang dapat dipergunakan dalam memperoleh data di dalam merealisir bimbingan dan penyuluhan antara lain:
Ø  Observasi (Pengamatan)
Observasi yaitu suatu cara untuk mengumpulkan data yang diinginkan dengan jalan mengadakan pengamatan secara langsung. Observasi dilakukan selama kegiatan proses belajar mengajar. Yaitu selama guru praktikan melakukan praktek mengajar di kelas selama kegiatan PPL
Sebelum memberikan layanan bimbingan kepada siswa, maka data dan informasi yang lengkap dan akurat harus didapatkan dahulu. Ada beberapa metode yang digunakan Penulis untuk memperoleh data yang diperlukan dalam layanan bimbingan siswa, yaitu:
1.      Metode Wawancara (Interview)
Metode ini dilakukan untuk mendapatkan data yang lengkap, dalam metode ini penulis mengadakan wawancara langsung dengan klien (face to face).
2.      Metode Angket
Metode ini dilakukan dengan jalan memberikan sejumlah pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab oleh klien dalam bentuk daftar, yaitu pertanyaan yang menyangkut identitas diri dan keluarga klien.
3.      Metode Check List
Check List digunakan untuk melengkapi data yang diperoleh dari angket. Klien diberi pertanyaan yang pada umumnya sering dijumpai serta dialami oleh siswa.
Sehingga langkah pertama pengumpulan data memegang peranan penting karena diperlukan pelaksanaan yang intensif, sistematis, dan komprehensif.
Adapun tahap-tahap pengumpulan data yang dapat digambarkan sebagai berikut:
1.      Melaksanakan observasi terhadap siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan dalam belajar baik dikelas maupun diluar kelas sekaligus mengisi daftar cek untuk mencatat hasil observasi, perilaku, dan sebagainya.

2.      Melakukan konsultasi dengan guru kelas tentang siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar sekaligus wawancara.
3.      Menganalisa  dokumen tentang diri siswa yang mencakup identitas pribadi, riwayat hidup, prestasi belajar, cita-cita pribadi, latar belakang keluarga, bakat dan minatnya, kesehatan, hobby dan sebagainya.
4.      Memberikan angket kepada siswa kasus untuk memperoleh data pribadinya.
5.      Mengadakan wawancara secara langsung dengan siswa kasus untuk memperoleh kejelasan dan keterangan dari angket yang ada.
6.      Mengolah dan menganalisis data untuk mencari sumber permasalahan yang dihadapi oleh siswa.
7.      Menetapkan prioritas masalah yang dihadapi siswa dan memberikan alternative pemecahan masalahnya.
8.      Mengadakan evaluasi dan tindak lanjut sebagai upaya pemecahan masalah yang dialami.

G.    Konfidensial
               Untuk mengetahui secara mendalam dan luas tentang masalah yang dihadapi oleh siswa, maka dituntut suatu pengumpulan data dari berbagai sumber dan aspek. Hal ini sangat penting agar mendapatkan gambaran yang menyeluruh dan selanjutnya dapat memberikan bantuan yang tepat pada siswa. Data yang diperoleh banyak bersifat rahasia serta pribadi yang tidak perlu diketahui orang lain yang tidak berkepentingan. Sehubungan dengan sifat kerahasiaan yang harus dijaga, seperti yang telah disebutkan dalam kode etik bimbingan, maka jati diri dibuat secara fiktif (samaran). Jika identifikasi fiktif tersebut tampak sama dengan identitas pembaca, maka hal itu merupakan suatu kebetulan semata.
               Data fiktif ini dimaksudkan untuk menjaga kerahasiaan klien, karena bukan tidak mungkin laporan studi kasus ini dibaca oleh orang yang tidak berwenang. Selain itu, agar klien tidak merasa malu atau dirugikan karena rahasianya diketahui oleh orang lain yang tidak berkepentingan.

H.    Batasan masalah
               Dengan jumlah siswa SMP Islam Alma’arif 01 Singosari yang sangat banyak, maka banyak pula siswa yang mempunyai masalah. Penulis hanya mengambil satu dari sekian banyak siswa SMP Islam Alma’arif 01 Singosari yang mempunyai masalah yaitu siswa kelas VII A. Karena mustahil jika sekian banyak masalah hanya ditangani oleh satu orang dan dalam kurun waktu yang sangat singkat, sehingga diperlukan suatu proses dan waktu yang berkesinambungan untuk mengatasi masalah-masalah yang begitu kompleks tersebut.












BAB II
LAYANAN BIMBINGAN SISWA

Pelaksanaan layanan bimbingan siswa yaitu memberikan bantuan kepada siswa untuk memperoleh sasaran dan tujuan yang ingin dicapai yaitu keberhasilan siswa, maka dilakukan tahap-tahap pelaksanaan praktek layanan bimbingan siswa sehingga memungkinkan berlangsungnya proses penyelesaian masalah tersebut antara lain,yaitu:
a.       Identifikasi kasus
b.      Sintesis
c.       Diagnosis
d.      Prognosis
e.       Pemberian Bantuan
f.       Follow up atau tindak lanjut
Selain melakukan kegiatan diatas, sebagai seorang guru yang merangkap sebagai konselor juga haruslah memegang kode etiknya untuk merahasiakan masalah maupun identitas siswa yang bermasalah tersebut.

A.    IDENTIFIKASI KASUS
Langkah pertama adalah mengidentifikasi siswa, dengan tujuan untuk menentukan siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan-kesulitan dalam belajar dan memerlukan bantuan dalam menyelesaikan masalah.
Metode yang digunakan adalah metode angket, problem check list, dan interview (wawancara).
Dalam layanan bimbingan siswa ini, penulis menetapkan seorang siswa kelas VII A sebagai klien, karena penulis dapat mengamati siswa tersebut dalam kesehariannya, dimana klien kurang bersemangat dan murung waktu PBM. Dari hasil pendekatan klien dan informasi dari temen terdekatnya di kelas. Maka penulis berkesimpulan bahwa yang bersangkutan mempunyai kesulitan dalam ekonomi dan kurangnya perhatian dari guru sehingga ia memiliki minat yang rendah.
Teknik Pengumpulan Data
Guna mengidentifikasi siswa, dibutuhkan analisis data mengenai siswa tersebut. Dalam praktek layanan bimbingan ini, digunakan beberapa rangkaian prosedural pengambilan data meliputi:
1.      Observasi
Teknik ini dilakukan dengan cara pengamatan dan pencatatan gejala dan tingkah laku pada diri siswa. Observasi dapat dilakukan dengan mengamati tingkah laku siswa selama mengikuti proses belajar mengajar di kelas, tingkah laku siswa terhadap teman-temannya atau terhadap gurunya.
2.      Angket (Questioner)
Angket adalah instrumen pengumpulan data yang berupa daftar pertanyaan-pertanyaan tentang diri siswa yang harus dijawab/dikerjakan oleh siswa. Dari angket tersebut dapat dianalisis penyebab dari masalah yang dihadapi siswa.
3.      Dokumenter
Dokumenter merupakan teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mengetahui dan mengumpulkan data siswa yang berkaitan dengan prestasi belajar siswa selama mengikuti proses belajar mengajar atau pendidikan di sekolah.  Informasi ini praktikan dapatkan dari daftar nilai siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di sekolah.


4.      Interview/Wawancara
Adalah teknik pengumpulan data dengan cara mewawancarai secara langsung siswa itu sendiri dan orang-orang yang ‘dekat’ dengan siswa, seperti guru bimbingan konseling dan teman dekat di kelas. Wawancara berguna untuk mendukung data yang diperoleh dari angket (Questioner)
5.      Data  prestasi belajar
Data ini bisa dilihat dari hasil belajar siswa sebelumnya yaitu dengan melihat daftar nilai seperti rapot atau  rekapan nilai hasil ulangan.
Ø  Angket
Hasil yang diperoleh dari pengisian angket siswa adalah sebagai berikut :
a.      Identitas Siswa
Nama Lengkap                  : Anissa Zelitha
Tempat & Tanggal lahir    : Lampung, 22 Mei 1996
Agama                               : Islam
Kewarganegaraan             : Indonesia
Alamat                              : JL. Sedap Malam, Bedali
b.      Identitas Orang Tua
Nama Ayah                       : Ferizal
Pendidikan Terakhir          : SMA
Agama                               : Islam
Pekerjaan                           : PNS (Pegawai Negeri Sipil)
Alamat                              : JL. Sedap Malam, Bedali
Nama Ibu                          : Asparina
Pendidikan Terakhir          : SMA
Agama                               : Islam
Pekerjaan                           : Ibu Rumah Tangga
Alamat                              : JL. Sedap Malam, Bedali
c.       Saudara Siswa
Anak ke :   3 dari   3   bersaudara.
d.      Siswa Tinggal Bersama
Orang tua
Ø  Problem Checklist:
Hasil dari problem check list yang telah di isi oleh klien adalah sebagai berikut:
a)      Kesehatan
·         Badan Sedang
·         Merasa lelah dan tidak bersemangat
·         Sering merasa pusing/pening
·         Merasa kurang bahagia karena merasa cacat
b)     Keadaan Kehidupan
·         Uang saku saya kurang mencukupi
·         Ibu bekerja karena penghasilan ayah tidak mencukupi
·      Orang tua saya cukup mampu dan saya ingin segala keinginan saya dipenuhi
c)      Kehidupan Keluarga
·         Kurang diperhatikan orang tua
·         Saya tidak dekat dengan ayah
·         Saya tidak dekat dengan ibu
·         Saya tidak ingin orang tua mengengkang
d)     Agama Dan Moral
·         Tidak dapat bersungguh-sungguh menerima adanya Tuhan
·         Masih meragukan adanya Tuhan
·         Sering mempermainkan (tidak menepati janji, sulit untuk jujur, sering iri hati, sering tidak mengakui kesalahan, dll) dengan orang lain
·         Pikiran dan tindakan saya sering bertentangan
e)      Hubungan Pribadi
·         Sering curiga pada orang lain
·         Sering menyalahkan orang lain
·         Mudah putus asa
·         Mudah bingung
·         Bersikap kaku
·         Bersikap tertutup
·         Tidak senang menceritakan masalah kepada orang lain
·         Mudah menyalakan diri sendiri
·         Merasa tidak mempunyai kelebihan
·         Sering merasa tidak layak hidup
f)       Kehidupan Sosial Dan Berorganisasi
·         Sulit bergaul
·         Sering gagal dalam usaha mencari kawan
·         Jarang diajak bermain bersama oleh teman
·         Sering bertentangan dengan orang lain
·         Bingung bila berhadapan dengan orang banyak
·         Bingung bila berhadapan dengan orang banyak
g)      Rekreasi Dan Hobby
·         Keinginan untuk rekreasi selalu terhalang
·         Lebih suka buku hiburan dari pada buku pelajaran
·         Setiap ada film baru saya nonton
·         Lebih senang dirumah dari pada menyalurkan hobby diluar rumah
h)     Penyesuaian Terhadap Sekolah
·         Saya sering datang terlambat
·         Saya sering dibenci oleh teman-teman di sekolah
·         Tidak ada teman yang saya senangi untuk belajar bersama
·         Merasa kurang dimengerti oleh guru
·         Peraturan sekolah terlalu menekan
i)        Penyesuaian Terhadap Kurikulum Sekolah
·         Pelajaran disekolah terlalu berat
·         Sukar mendapat buku pelajaran
·         Sukar menangkap dan mengikuti pelajaran
·         Pelajaran yang bersifat hitungan sukar bagi saya
·         Pelajaran yang bersifat hafalan sukar bagi saya
j)       Check List Kebiasaan Belajar
·         Belajar kalau ada ulangan
·         Belajar tidak teratur waktunya
·         Sukar memusatkan perhatian waktu belajar
·         Sering menyalin pekerjaan teman
·         Tidak dapat menerapkan cara belajar yang baik
k)     Asmara
·         Bercinta dalam masa sekolah dapat menjadi dorongan
·         Orang tua melarang saya untuk pacaran dulu
·         Gemar melihat/menonton film bernadakan cinta
·         Saya merasakan kesepian karena belum mempunyai pacar
Test Who Am I
·         Seorang yang pendiam
·         Seorang yang minder
·         Seorang yang kurang mudah menyesuaikan dengan keadaan baru
·         Seorang yang tertutup
Ø  Wawancara
Dalam wawancara awal sebelum treatment diberikan data atau angket yang telah ditulis oleh penulis mengenai klien adalah sebagai berikut:
a.      Kesehatan
Klien sering sering melamun, murung, berdiam diri dikelas karena kurang bersemangat.
b.   Ekonomi
Orang tua saya hanya berpendapatan pas-pas-an
c.       Sosial organisasi
Klien tidak senang menjadi pemimpin dan kurang senang mengikuti sebuah perkumpulan/organisasi, tetapi lebih senang menjadi anggota biasa
d.      Hubungan Psikologi dan pribadi
Klien ingin mempunyai kepribadian yang menyenangkan agar disenangi teman dan guru-guru. Klien juga ingin popular di sekolah, akan tetapi disamping itu klien sulit membicarakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi karena tidak percaya diri dan tidak percaya pada orang lain.
e.       Emosional psikologis
Klien juga sukar sekali dalam mengambil keputusan tentang sesuatu.


f.       Teman dan keluarga
Klien merupakan anak ke tiga dari tiga bersaudara. Ayahnya bekerja sepagai pegawai negeri sipil dan ibunya sebagai ibu rumah tangga. Kasus tidak mempunyai teman di kelas dan suka dikucilkan oleh teman-temannya.
g.      Pengajaran
Klien dikelas sering kesulitan untuk memusatkan pikiran saat pelajaran. Klien juga sering cemas menghadapi ujian karena khawatir mendapat nilai jelek dan takut tidak naik kelas serta takut mendapat giliran maju di depan kelas.

  1. SINTESIS
Sintesis merupakan usaha merangkum, menggolong-golongkan dan menghubung-hubungkan data yang telah terkumpul pada tahap awal yaitu tahap analisis, yang disusun sedemikian sehingga dapat menunjukkan keseluruhan gambaran mengenai diri klien, kekuatan dan kelemahannya. (Lutfi Fauzan,1994:142)
Berikut hasil sintesis dari data-data klien:
a.       Tidak bersemangat, melamun, murung dan mengantuk dikelas serta berdiam diri
b.      Klien merasa tidak percaya diri
c.       Hobi klien tidak tersalurkan kerena harus membantu orang tuanya
d.      Klien mempunyai masalah dengan cara belajar yang kurang efektif karena tidak dapat membagi waktu dengan baik .   
e.       Klien bersifat tertutup terhadap masalah yang sedang dihadapinya.

  1. DIAGNOSIS
Diagnosis merupakan tahap menginterpretasikan data dalam bentuk problema yang ditunjukkan. Pada tahap ini akan ditetapkan penyebab masalah serta masalah yang dihadapinya sehingga diperoleh pemahaman tentang hakikat masalahnya. Dalam diagnosis ini nantinya oleh penulis dapat dijadikan dasar dalam membuat perkiraan mengenai masalah yang dihadapinya oleh klien serta hal apa saja yang menjadi penyebab klien menghadapi masalah tersebut.
1)      Identifikasi Masalah
Dalam tahap ini ditentukan atau ditunjukkan masalah apa yang sedang dialami oleh klien. Identifikasi masalah dilakukan dengan tujuan dapat mengklasifikasi masalah apa yang akan diselesaikan. Berdasarkan hasil analisis dan sintesis seperti yang telah dibahas diatas,  diperoleh gambaran mengenai masalah klien yaitu:
ü  Klien sering merasa tidak percaya diri
ü  Klien sering merasa lelah dan tidak bersemangat
ü  Klien bersifat tertutup terhadap masalah yang sedang dihadapinya
ü  Sukar menangkap pelajaran yang bersifat menghafal dan berhitung
2)      Penyebab Munculnya Masalah (Etiologi)
Pada tahap ini yang dilakukan yaitu mencari faktor penyebab terjadinya masalah yang sedang dihadapi oleh klien yang menjadi sumber timbulnya suatu masalah yang mencakup pencarian hubungan antara masa lalu, sekarang dan masa depan yang mungkin dengan jalan ini dapat dipahami sebab-sebab dari gejala. Dalam etiologi ini diperoleh data-data yang menyebabkan klien mengahadapi masalah belajar ini adalah sebagai berikut:
ü  Buku-buku pelajaran yang dimiliki tidak lengkap
ü  Klien tidak mempunyai jadwal khusus untuk belajar (terhambat denga tugas-tugas rumah).


  1. PROGNOSIS
Prognosis ini bersangkutan dengan upaya memprediksikan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi berdasarkan data yang ada sekarang. Kemungkinan-kemungkinan yang telah dipikirkan oleh penulis apabila klien tidak mendapatkan bantuan dari penulis adalah:
1)      Apabila penulis tidak dapat membantu masalah yang sedang dihadapi oleh klien maka:
ü  Nilai raport klien akan jelek sehingga klien kecewa
ü  Orang tua akan kecewa pada klien
ü  Klien akan kehilangan motivasi belajar
ü  Klien semakin memburuk dalam hal apapun terutama pelajaran
2)      Apabila penulis dapat membantu masalah yang sedang dihadapi oleh klien maka:
ü  Nilai raport klien akan bagus seperti yang diharapkan
ü  Orang tua akan senang dan bangga pada klien
ü  Motivasi belajar klien akan meningkat
ü  Klien semakin membaik dalam hal apapun yang membuat klien tidak jatuh terutama pelajaran sekolah

  1. PEMBERIAN BANTUAN (TREATMENT)
Treatment merupakan usaha bantuan yang diberikan kepada klien. Bantuan yang diberikan adalah bantuan yang berupa upaya membantu klien untuk menemukan sumber kekuatan yang ada pada diri klien itu sendiri atau berupa sumber dari lembaga masyarakat guna membantu klien untuk mencapai penyesuaian seoptimal mungkin. Usaha pemberian bantuan atau treatment merupakan kegiatan pokok dalam proses memberikan bantuan kepada klien. Tujuan dari kegiatan ini adalah agar masalah yang dihadapi oleh klien dapat teratasi. Adapun usaha-usaha yang akan dilakukan adalah:
1.      Usaha bantuan yang direncanakan
2.      Usaha yang tidak direncanakan
3.      Usaha bantuan yang telah terlaksana
4.      Usaha bantuan yang tidak terlaksana
5.      Kegiatan follow up
Ø  Bantuan yang Direncanakan
Usaha-usaha bantuan yang telah direncanakan untuk dapat mengatasi masalah yang sedang dihadapi klien dalam tahap ini adalah:
1.      Konseling dengan klien
2.      Memberikan bimbingan belajar kepada klien
3.      Memberikan motivasi hidup kepada klien
Usaha-usaha bantuan diatas dirasa penulis sudah sesuai dengan kondisi masalah yang sedang dihadapi oleh klien. Hal ini dikarenakan masalah klien yang kompleks sehingga penulis membuat rencana bantuan kepada klien seperti yang tertera diatas. Penulis merasa perlu melakukan konseling karena dalam konseling terjadi pembicaraan antara klien dan penulis yang berperan sebagai konselor. Dalam kegiatan tersebut tentunya dibahas mengenai masalah klien dan bagaimana cara penyelesaiannya.
Selain konseling, penulis juga merasa perlu memberikan bimbingan belajar kepada klien hal ini bertujuan agar klien dapat meningkatkan belajarnya. Kemudian penulis juga merasa perlu memberikan motivasi belajar kepada klien selain memberikan bimbingan dalam belajar. Hal ini agar dalam proses belajar klien, klien merasa lebih ada yang membantunya dalam kegiatan belajarnya.
Ø  Bantuan yang Terlaksana
1.      Konseling
Kegiatan ini dilakukan sebanyak dua kali pertemuan. Dalam kegiatan ini dibahas mengenai masalah klien, apa saja penyebabnya dan bagaimana alternatif penyelesaian yang tentunya atas pemikiran klien sendiri.
Klien disarankan untuk membagi waktu sehingga ada waktu untuk belajar dan bermain. Klien akan mulai mengurangi kegiatan yang bersifat bermain sehingga pulang sekolah tepat waktunya.
2.      Memberikan motivasi dalam belajar
Kegiatan ini dilakukan agar klien dapat lebih semangat untuk belajar. Dalam hal ini penulis memberikan pengertian bahwa sekolah itu penting untuk masa depannya dan klien masih beruntung dapat mengeyam pendidikan dibandingkan anak-anak yang ingin sekolah tapi tidak dapat kesempatan seperti dirinya. Dan penulis selalu menanyakan kesulitan-kesulitan apa yang dialami klien dalam hal pelajaran.
Ø  Bantuan yang Tidak Terlaksana
Dari kedua bantuan yang hendak diberikan kepada klien ada yang tidak terlaksana. Hal ini dikarenakan keterbatasan waktu, kegiatan yang tidak terlaksana adalah sebagai berikut:
·         Memberikan bimbingan belajar kepada klien.
Dalam kegiatan ini penulis berencana akan mendampingi klien saat belajar, hal ini dilakukan agar klien jika ada kesulitan dalam pelajarannya penulis dapat membantu untuk memecahkan persoalan belajarnya. Dan dimaksudkan agar klien lebih memahami materi-materi yang telah diberikan oleh guru di sekolah.

  1. USAHA TINDAK LANJUT (FOLLOW UP)
Usaha tindak lanjut atau follow up ini merupakan kegiatan akhir dari studi kasus ini. Dalam kegiatan ini penulis berupaya untuk mengetahui setiap perkembangan klien setelah dilakukan konseling selama beberapa kali tersebut. Dalam kegiatan ini yang dilakukan penulis untuk mengetahui perkembangan klien adalah melalui wawancara.
Sementara usaha yang dilakukan penulis yaitu dengan wawancara langsung dengan klien lingkungan sekitar, dan orang tua. Data yang diperoleh sebagai berikut:
1.      Klien bersemangat dalam belajar
2.      Klien dapat membagi waktu dengan baik
3.      Klien merasa nyaman dan kerasan di sekolah dan di rumah
4.      Klien mulai banyak teman dan bisa bersosialisasi dengan yang lain (tidak minder)

BAB III
PENUTUP

  1. KESIMPULAN
Dari penelitian yang dilakukan penulis, dapat disimpulkan bahwa: klien yang dijadikan studi kasus ini mengalami masalah dalam hal belajar dan keadaan ekonomi keluarganya. Hal ini ditunjukkan dengan kurangnya motivasi belajar klien dan keadaan kehidupan ekonomi dalam keluarga.
Acuan yang penulis gunakan dan rencana bantuan yang akan diberikan kepada klien sudah sesuai dengan masalah yang dihadapinya. Bantuan yang terlaksana antara lain konseling, pemberian motivasi belajar, pemberian motivasi untuk mendekatkan diri pada Tuhan, dan cara belajar yang efektif dan efisien. Hasil sementara setelah pemberian bantuan kepada klien, menunjukkan bahwa klien sudah mulai bersemangat belajar, klien mulai bisa membuat jadwal belajar sendiri, selalu berusaha untuk bergaul dengan teman-temanya dan menghargai pentingnya bersekolah tidak lagi menyia-nyiakan sekolahnya selagi kita bisa bersekolah dan juga sudah bisa mendekatkan diri kepada Tuhan. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa studi kasus ini cukup berhasil.

  1. SARAN
            Berkaitan  dengan keberhasilan bantuan yang telah diberikan kepada klien, beberapa saran kepada beberapa pihak yang berkaitan dengan penyusunan studi kasus ini, diantaranya:


1.      Klien
Adanya kesadaran dan semangat yang tinggi dalam diri klien untuk mengembangkan perilaku yang baik sangat diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Tidak menyia-nyiakan waktu maupun kesempatan yang ada dan berusaha untuk lebih baik selagi kita bisa berusaha.
2.      Orang tua klien
Orang tua hendaknya lebih bijaksana mengambil keputusan dalam mengatasi masalah yang ada dan tidak harus semua masalah diselesaikan dengan kekerasan, kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah malah membuat masalah yang baru. Orang tua hendaknya lebih perhatian kepada klien dan bijaksana mengarahkan klien dalam membagi waktu untuk lebih giat belajar. Memberikan pengertian pentingnya arti bersekolah dan tidak lagi menyia-nyiakan sekolah selagi orang tua kita bisa menyekolahkan.
3.      Guru
a)      Hendaknya dapat menciptakan suasana belajar yang tidak membosankan, sehingga    siswa tidak merasa bosan belajar disekolah khususnya dikelas dan siswa tidak lagi ada lagi yang bolos
b)      Hendaknya guru pintar-pintar dalam memilih metode yang ada dan bisa membuat variasi agar siswa mengerti/paham tentang apa yang diterangkan
c)      Hendaknya lebih memberi perhatian dan lebih dekat kepada siswa agar apa keluhan kekurangan siswa dalam proses belajar
d)     Memberi motivasi belajar dan contoh membagi waktu dengan baik,sehingga dapat menerapkannya
e)      Hendaknya lebih cepat/cekatan mengambil tindakan terhadap siswa yang mempunyai masalah.
4.    Konselor
a)      Dalam pelaksanaan usaha bantuan hendaknya dilakukan secara intensif.
b)      Praktikannya hendaknya lebih membekali diri dengan berbagai keterampilan dasar komunikasi untuk mendukung agar dalam melaksanakan proses konseling berjalan dengan baik.
c)      Praktikannya hendaknya lebih banyak berlatih konseling sehingga dapat membantu klien dengan maksimal.
d)     Praktikannya hendaknya lebih banyak menguasai pendekatan dan teknik-teknik konseling sehingga akan lebih mudah membantu dalam proses pemecahan masalah klien.




Daftar Pustaka

Hidayah,1992. masalah belajar dan bimbingan.Malang :IKIP Malang.
Hidayah, Nur. 1998. pemahaman individu : teknik Non tes. Malang FIP Universitas Negeri Malang
Munandir, 1979. kode etik dalam konselor . Malang: PBB FIP IKIP Malng.
Fauzan, lutfi dan Bisri, Moh. 1994. Modul 4: konseling trait and factor, Malang :IKIP Malang.
Partowisastro, koestoer,1984.Diagnosa dan pemecahan kesulitan belajar, Jakarta: PT.Erlangga press.
Djumhur, I & M. Surya. 1975. Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Bandung: CV IImu.
Hayinah. 1992. Masalah Belajar dan Bimbingan , Malang: IKIP Malang.
Flurentin, E. 1991. Pengantar Bimbingan dan Konseling:Buku Pandua Mahasiswa. Jakarta:
Gramedia.
Hidayah,N & Heni I.1991. Teknik Pemahaman Individu Non-Tes.Malang: IKIP Malang.
Munandir.1996.Program Bimbingan Karier di Sekolah. Jakarta: Proyek Pendidikan Tenaga
Akademik.
Rosidan, 1994. Pendekatan – Pendekatan Modern Dalam Konseling. Malang: Depdikbud
UPT PPL.1996. Pedoman Praktek Pengalaman Lapangan (Praktek Keguruan).
Malang Universitas Negri Malang,




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar