SEMANGAT

Jangan menyerah atas hal yang kamu anggap benar meskipun terlihat mustahil. Selama ada kemauan dan usaha, Tuhan kan berikan jalan untuk kita.
Tampilkan postingan dengan label KUMPULAN MAKALAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KUMPULAN MAKALAH. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Maret 2012

MAKALAH SASTRA MULTI DISIPLINER


NILAI MAGIS DALAM NOVEL CALON ARANG
 KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER ,SENDRATARI CALON ARANG
DAN FILM CALON ARANG
ANDHIKA NUGROHO

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang

Peredaran karya sastra di Indonesia berkembang pesat. Hal ini dapat dilihat dari adanya berbagai macam karya sastra yang bermutu dan baru beredar di masyarakat, baik yang diciptakan oleh pengarang laki-laki maupun pengarang perempuan. Kehadiran karya satrsa di masyarakat tampak memberikan suatu hiburan tersendiri.

Karya sastra merupakan kreasi artistik yang terwujud dari imajinasi nalar dan perasaan pengarang. Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan tentang manusia, sastra tidak hanya lahir karena fenomena kehidupan lugas, tetapi juga dari kesadaran pengarangnya bahwa sastra merupakan suatu yang imajinatif dan fiktif.

Jassin (1983:4) mengatakan bahwa sastra dapat menambah kearifan dan kebijaksanaan dalam kehidupan. Karya sastra akan selalu menarik karena di dalamnya terungkap hasil penghayatan zaman yang dalam. Melalui karya sastra, pembaca dapat memasuki pengalaman bangsa atau bangsa-bangsa lain, sejarah dan masyarakatnya untuk menyelami apa yang pernah dirasakan dan dipikirkan.

Karya sastra memang bersifat Dulce et Utile: menyenangkan dan bermanfaat (Sudjiman, 1985:13). Dengan membaca dan mendengar karya sastra akan diperoleh pengetahuan dan sekaligus merupakan sarana untuk latihan memberikan kritik terhadap sastra. Tujuan membaca karya sastra adalah untuk mendayagunakan pengetahuan, memperkaya rohani, menjadikan manusia yang berbudaya, dan untuk menggunakan sesuatu dengan baik (Sunardjo, 1984:6). Dengan demikian, karya sastra sangat menunjang nilai-nilai kebudayaan sekaligus menceritakan kembali sesuatu yang disenangi sastrawan mengenai nilai sesuatu dalam masyarakat.

Lewat membaca karya sastra, pembaca dapat melaksanakan kegiatan berbahasa, yaitu kegiatan yang bertujuan memperkaya kosa kata, mengembangkan kemampuan menyusun kalimat memperoleh gaya bahasa yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa pembacanya. Lebih lanjut, pembaca sastra juga dapat ditautkan dengan membaca kreatif, yaitu kegiatan membaca yang dilatarbelangi dengan tujuan tertentu yang bersifat aplikatif. Artinya, pembaca ingin menemukan nilai-nilai kehidupan yang mampu memperkaya landasan pola perilaku, mendapatkan pengetahuan praktis untuk menjadi penulis yang baik (Aminudin, 1984:16).

Sastra bandingan adalah studi sastra bandingan secara totalitas, karena sastra bandingan identik dengan sastra dunia, sastra umum atau sastra universal. Pengkajian sastra bandingan pada dasarnya tidak harus terpaku pada karya-karya klasik dari sastrawan yang terkenal, karena dalam kajian sastra bandingan tidak jauh berbeda dengan kegiatan mengapresiasi suatu karya sastra.

Contoh kajian nilai magis terdapat dalam novel Calon Arang karya Pramoedya Ananta Toer dengan membandingkan pertunjukan drama tari yang ada di Bali, dengan film Calon Arang di layar kaca yang bertutur tentang kehidupan seorang perempuan tua yang jahat. Pemilik teluh hitam dan pengisap darah manusia. Ia pongah. Semua-mua lawan “politik”nya dibabatnya. Yang mengkritik dihabisinya. Ia senang menganiaya sesame manusia. Ia punya banyak ilmu ajaib untuk membunuh orang… murid-muridnya dipaksa berkeramas, berkeramas dengan darah manusia. Kalau mereka sedang berpesta tak ubahnya dengan sekawanan binatang buas, takut orang melihatnya yang jika ketahuan mengintip orang itu akan diseret ke tengah pesta dan dibunuh dan darahnya dipergunakan berkeramas.Tapi kejahatan ini juga pada akhirnya bisa tumpas di tangan jejari kebaikan dalam sebuah operasi terpadu  yang dipimpin oleh Empu Baradah. Empu ini bisa mengembalikan kehidupan masyarakat yang gonjang dan ganjing ke jalan yang benar sehingga hidup bisa lebih baik dan lebih tenang, tidak buat permainan segala macam kejahatan.

Melalui kajian bandingan ini, penulis akan mengkaji tentang nilai magis yang terdapat dalam novel Calon Arang karya Pramoedya Ananta Toer, pertunjukan drama tari dan film yang ada di layar kaca agar pembaca mudah mengerti dan memahami pengungkapan magis yang menjadi tema besar novel ini,jga banyak sekali menyinggung sejarah serta berbagai adat istiadat yang berhubungan dengan spiritual bali(hindu)seperti kepercayaan,persembahan.











1.2  Rumusan Masalah
Bila ditinjau dari judul di atas maka analisis ini lebih difokuskan pada bagaimana perbedaan nilai magis pada novel Calon Arang karya Pramoedya Ananta Toer,pertunjukan drama tari Calon Arang serta Film yang ada di layar kaca?
1.3    Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini,yaitu peneliti ingin mendeskripsikan mengenai perbedaan nilai magis yang terdapat dalam novel Calon Arang karya Pramoedya Ananta Toer,pertunjukkan drama tari Calon Arang serta film yang ada d layar kaca.
1.4    Metode penelitian
Penelitian ini ditinjau dari segi jenis penelitiannya tergolong pada penelitian yang bersifat hermeneutika karena penelitiannya tergolong pada penelitian yang bersifat hermeneutika masih saja terus berkembang.Menurut Richard E.Palmer,definisi hermeneutika dapat dibagi menjadi enam bagian.Sejak awal hermeneutika telah sering didefinisikan sebagai ilmu tentang penafsiran.Akan tetapi secara luas hermeneutika juga sering didefinisikan sebagai:(1)Teori penafsiran kitab suci;(2)Hermeneutika metodologi filologi umum;(3)Hermeneutika sebagai landasan metodologis dari ilmu-ilmu kemanusiaan;(4)Hermeneutika sebagai pemahaman eksistensialisme dan fenomenologi eksistensi dan (5)Hermeneutika sebagai sistem penafsiran dapat diterapkan baik secara kolektif maupun secara personal,untuk memahami makna yang terkandung dalam mitos-mitos ataupun simbol-simbol.
Hermeneutika Sebagai Alternatif Interpretasi
            Ketika sebuah teks dibaca seseorang,disadari atau tidak akan memunculkan interpretasi terhadap teks tersebut.Membicarakan teks tidak pernah terlepas dari unsur bahasa, Heidegger menyebutkan bahasa adalah dimensi kehidupan yang bergerak yang memungkinkan terciptanya dunia sejak awal, bahasa mempunyai eksistensi sendiri yang didalamnya manusia ikut berpartisipasi (tagleton,2006:88)
            Sebagai metode tafsir, hermeneustika menjadikan bahasa sebagai tema sentral, kendati dikalangan para filsuf hermeneutika sendiri terdapat perbedaan dalam memandang hakikat dan fungsi bahasa.Perkembangan aliran filsafat hermeneutika mencapai puncaknya ketika muncul dua aliran pemikiran yang berlawanan, yaitu aliran intensionalisme dan aliran hermeneutika gadamerian.Intensionalisme memandang makna sudah ada karena dibawa pengarang atau panyusun teks sehingga tinggal menunggu interprestasi penafsir.
Sementara Hermeneutika Gada – merian sebaliknya memandang makna dicari, dikonstruksi, dan direkontruksi oleh penafsir sesuai konteks penafsir dibuat sehingga teks tidak pernah baku, ia senantiasa berubah tergantung dengan bagaimana, kapan dan siapa pembacanya (Rahadjo, 2007:55).Peristiwa pemahaman terjadi ketika cakrawala makna historis dan asumsi kita terpadu dengan cakrawala tempat itu berada.Hermeneutika melihat sejarah sebagai dialog hidup antara masa lalu, masa kini dan masa depan.Metode hermeneutika mencoba menyesuaikan tiap elemen dalam setiap teks menjadi satu keseluruhan yang lengkap, dalam sebuah proses yang biasa dikenal sebagai lingkaran hermeneutika.Ciri-ciri individual dapat dimengerti berdasarkan keseluruhan konteks dan keseluruhan konteks dapat dimengerti melalui ciri-ciri individual.
Kunci pemahaman adalah partisipasi dan keterbukaan, bukan manipulasi dan pengendalian.Sebagai sebuah metode penafsiran, hermeneutika tidak hanya memandang teks, tetapi juga berusaha menyelami kandungan makna secara literalnya.Hermeneutika berusaha menggali makna dengan mempertimbangkan horison-horison (cakrawala) yang melingkupi teks tersebut.Horison yang dimaksud adalah horison teks, pengarang, dan pembaca.Dengan memperhatikan ketiga horison tersebut diharapkan suatu upaya pemahaman atau penafsiran menjadi kegiatan rekonstruksi dan reproduksi makna teks, yang selain melacak bagaimana suatu teks dimunculkan oleh pengarangnya dan muatan apa yang masuk dan ingin dimasukkan oleh pengarang kedalam teks, juga berusaha melahirkan kembali makna sesuai dengan situasi dan kondisi soal teks dibaca atau dipahami.Dengan kata lain hermeneutika memperhatikan tiga hal sebagai komponen pokok dalam upaya penafsiran yaitu teks, konteks, kemudian melakukan upaya kontekstualisasi.














BAB II
PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI
2.1 Pengertian Nilai
Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas dan berguna. Bagi manusia sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna bagi kehidupan.
2.2 Pengertian Magis
Rahaswia tersembunyi, terselubung atau paham yang memberikan ajaran yang magis sehingga haya dikenali, diketahui atau dipahami oleh orang-orang tertentu saja/penganutnya. Menurut kamus besar bahasa Indonesia magis dapat diartikan hal gaib yang tidak terjangkau dengan akal manusia biasa. Sub sistem yang ada di hampir semua agama dan system religi untuk memenuhi hasrat manusia merasakan emosi bersatu dengan Tuhan.
2.3 Pengertian Nilai Magis
Nilai yang mengandung unsure-unsur magis (rahasia, tersembunyi, terselubung, objek dapat diketahui melalui pengetahuan mistik yang tidak dapat dipahami oleh rasio, seperti supra natural (supra rasional), kebal, debus, pelet, penggunaan jin santet dan lain-lain.
2.4 Teori Transformasional
Tranformasional adalah perubahan bentuk atau rupa suatu karya sastra ke dalam bentuk karya sastra lain. Dalam transformasi struktur-strukturnya tidak statis melainkan dinamis. Bentuk transformasi terdiri atas beberapa macam,yaitu transformasi karya sastra tulis ke dalam karya sastra lisan,transformasi karya sastra lisan ke dalam karya sastra tulis,transformasi karya sastra tulis ke dalam karya sastra tulis.
Macam-macam transformasi dapat berupa :penambahan atau pengulangan,penukaran,penggantian,dan penghapusan. Empat jenis transformasi tersebut dapat diterapkan ke dalam berbagai bidang teks baik sastra maupaun bahasa.Di dalam kebahasaan ke-empat jenis transformasi                                                           itu dapat dikaitkan dengan sintaksis,semantik,dan bunyi (fonologi) sehingga terjadi aneka macam variasi yang dengan sadar atau tidak akan menimbulkan teks-teks yang baru.
Bentuk-bentuk transformasi seperti;transformasi karya sastra ke dalam bentuk novel,transformasi karya sastra ke dalam bentuk drama,transformasi karya sastra ke dalam bentuk sendratari atau dramatari,Transformasi karya sasra dalam bentuk pewayangan.
Hal-hal penting dalam transformasi:dalam transformasi karya sastra tradisional kedalam seni pertunjukan modern (teater),menyatakan bahwa satu hal yang tidak boleh hilang dalam proses transformasi itu adalah makna dan nilai-nilai sastra.Makna kata dan makna kalimat yang mengandung nilai dan pesan seharusnya tetap di pertahankan ketika kata-kata dan kalimat itu berubah menjadi gerak atau akting.
Transformasi seni sastra kedalam seni pertunjukan;dalam transformasi pertunjukan ini tokoh-tokoh dalam seni pertunjukan juga tak perlu dibuat sebanyak tokoh yang ada dalam novel.Misalnya dengan hanya mengambil tokoh-tokoh penting yang disesuaikan dengan tokoh-tokoh yang diperlukan dalam seni pertunjukan.Secara fisik,cerita dalam karya sastra bisa saja tidak sama dengan cerita dalam seni pertunjukan,misalnya plot atau alur bisa saja diubah.Bangunan alur bisa dilakukan dengan sistem kilas balik sehingga pembahasannya bisa disusun dengan pembabakan baru.Artinya bisa dibuat skenario ulang seperti membuat skenario film dan kisahnya diambil dari novel.
Proses transformasi dari karya sastra berbentuk tulisan kedalam seni pertunjukan yang mengandalkan gerak dan akting tentu saja tak mempunyai teori baku.Bahkan berkali-kali mengubah strategi agar cerita dalam novel atau naskah drama barat bisa diterjemahkan dengan mulus sekaligus “mengena” dan “sampai” ketika diubah dalam bentuk tembang,gerak,akting.Contoh-contoh transformasi misalnya;(1)Cerita rakyat Calon Arang yang ditransformasikan kedalam bentuk novel,(2)Cerita rakyat yang ditransformasikan kedalam bentuk seni tari atau drama tari,(3)Cerita rakyat Calon Arang yang ditransformasikan kedalam bentuk film.
2.5 Persamaan dan Perbedaaan Sastra Bandingan
Sastra bandingan adalah sebuah studi teks across cultural. Studi ini merupakan upaya interdisipliner, yakni lebih banyak memperhatikan hubungan sastra menurut aspek waktu dan tempat. Dari aspek waktu, sastra bandingan dapat membandingkan dua atau lebih periode yang berberbeda. Sedangkan konteks tempat, akan mengikat sastra bandingan menurut wilayah geografis sastra. Konsep ini merepresentasikan bahwa sastra bandingan tertuju pada bandingan sastra dengan bidang lain. Bandingan semacam ini, guna menurut keterkaitan antara aspek kehidupan (Endraswara, 2008: 128). Semantara, Benedecto Crose (Giffod dalam Endraswara, 2008: 128), berpendapat bahwa studi sastra bandingan adalah kajian yang berupa eksplorasi perubahan (vicissitude), alterna-tion (penggantian), pengembangan (devilopmen), dan perbedaan timbal balik di antara dua karya atau lebih. Sastra bandingan akn terkait dengan ihwal tema dan ideal sastra.
Ada dua hal yang sangat mungkin menjadi problem dalam sastra bandingan (comparative literature) sebagai sebuah disiplin ilmu. Pertama, persoalan yang menyangkut konsep sastra bandingan. Dalam banyak rumusan atau definisi sastra bandingan pada umumnya, penekanan perbandingan pada dua karya atau lebih dari sedikitnya dua negara yang berbeda menjadi pusat perhatian yang utama. Jadi, sebuah perbandingan dua karya atau lebih yang berasal dari dua negara, termasuk ke dalam wilayah sastra bandingan. Jika kita membandingkan dua karya yang berasal dari dua kultur etnik yang berbeda –Sunda dan Jawa, misalnya—, padahal kedua karya itu berada dalam wilayah negara yang sama, apakah termasuk ke dalam wilayah sastra bandingan. Pertanyaan yang sama dapat diajukan ketika kita membandingkan sastra Singapura dengan sastra Taiwan yang keduanya memakai bahasa Mandarin atau sastra Brunei Darussalam dengan sastra Malaysia yang keduanya memakai bahasa Melayu. Pertanyaan yang sama tentu saja dapat kita kemukakan lebih panjang lagi. Jadi, jika kita mengamati karya-karya dari berbagai negara yang menggunakan bahasa yang sama atau sastra dari berbagai daerah dalam satu negara, maka ternyata bahwa rumusan sastra bandingan yang menekankan pada perbedaan negara, justru akan mengundang masalah konseptual. Dalam konteks itulah, perlu kiranya kita mempertanyakan kembali rumusan-rumusan sastra bandingan yang pernah ada.
Masalah kedua menyangkut praktik sastra bandingan sebagai sebuah kajian. Apakah praktik sastra bandingan hanya sebatas membandingkan dua teks sastra atau lebih jauh dari itu dengan mencantelkan analisis atau interpretasinya pada kebudayaan dan kehidupan kemasyarakatan yang melahirkannya. Jika perbandingannya itu hanya menyangkut dua atau lebih teks sastra yang berbeda, maka hasil perbandingan itu hanya akan sampai pada perbedaan dan persamaan tekstual. Dari sana mungkin kita akan sampai juga pada persoalan reputasi dan penetrasi, dan pengaruh-mempengaruhi. Jika demikian halnya, maka perbandingan itu akan tetap berkutat pada persoalan tekstual. Jadi, apakah tujuan sastra bandingan hanya sampai pada pengungkapan perbedaan dan persamaan dua teks atau lebih. Oleh karena itu, patutlah dipertimbangkan tujuan sastra bandingan yang tidak hanya sampai pada perbandingan dua teks sastra yang berbeda dan mengungkapkan persamaan dan perbedaan tekstual, tetapi juga coba menelusuri persamaan dan perbedaannya itu sebagai bagian dari dua produk budaya yang dilahirkan dari dua kehidupan sosio-budaya yang berbeda.
Jadi, sesuai dengan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sastra bandingan adalah perbandingan karya sastra yang satu dengan satu atau beberapa karya sastra lain, serta perbandingan karya sastra dengan ekspresi manusia dalam bidang lain.









BAB III
PEMBAHASAN
Berdasarkan ulasan pada latar belakang dan teori-teori, penelitian ini akan mengkaji perbedaan nilai magis dalam novel Calon Arang karya Pramoedya Ananta Toer, pertunjukan drama tari Calon Arang dan film Calon Arang di layar kaca.
3.1 Nilai Magis yang Terdapat dalam Novel Calon Arang
Sinopsis Calon Arang dalam novel karya Pramoedya Ananta Toer menceritakan tentang kehidupan seorang perempuan tua yang jahat.Profesinya adalah tukang teluh hitam.Dengan sangat tajam, Pramoedya Ananta Toer menggambarkan seorang sosok Calon Arang ini tak lebih sebagai mesin pemusnah kemanusiaan.Dia adalah pemilik mantra hitam dan pengisap darah dengan pipa keserakahan, ia pongah, ia tak pernah puas.Semua lawan politik dibabatnya, yang mengkritik dihabisinya.Ia senang menganiaya sesama manusia, membunuh, merampas dan menyakiti.Calon Arang berkuasa, ia tukang teluh dan punya banyak ilmu ajaib untuk membunuh orang.Demikian Pramoedya menggambarkan tokoh jahat ini.
Tapi kejahatan ini juga pada akhirnya bisa tumpas di tangan jejari kebaikan dalam operasi terpadu yang dipimpin oleh Empu Barada.Empu ini digambarkan bisa mengembalikan kehidupan masyarakat yang gonjang ganjing ke jalan yang benar sehingga hidup bisa lebih baik dan lebih tenang, tidak membuat segala macam kejahatan lagi.
Calon Arang merupakan perempuan yang buas yaitu memaksa muridnya berkeramas dengan darah manusia karena itu rambut murid-muridnya gimbal-gimbal.Kalau mereka berpesta seperti binatang buas, sehingga orang-orang takut melihatnya.Jika ketauan mengintip orang itu akan diseret ke tengah peata dan dibunuh, darahnya dipergunakan untuk berkeramas.Letak nilai magis dalam novel Calon Arang yaitu Calon Arang dan muridnya memuja Dewi Durga sambil memuja murid-muridnya dan menari.Seperti kawanan orang gila nampaknya.Dalam menari-nari itu mereka melangkah berputar-putar.Tak karuan tariannya.Yang satu tidak sama dengan yang lain.Seorang menjelir-jelirkan lidah seperti ular.Yang lain mendelik-delik menakutkan.Yang lain lagi maring-miring dan kakinya dipendekkan.” (Pramoedya, 2003:13)
Pada saat prajurit-prajurit datang ke rumah Calon Arang dan mendekati Calon Arang pada saat ia tidur nyenyak.Tukang sihir itu bangunlah dari tidurnya.Melihat ketiga prajurit itu meluaplah amarahnya matanya merah, sebentar kemudian menyemburkan api dari matanya itu, juga hidung kuping dan mulutnya merah padam mengeluarkan api yang menjilat-jilat.Terbakarlah ketiga prajurit itu.Terbakar sampai hangus dan mati disitu juga.
3.2 Nilai Magis yang Terdapat dalam Dramatari atau Sendratari Calon Arang
Sendratari Calon Arang adalah salah satu kesenian Bali yang termasuk dalam katagori kesenian untuk kepentingan ritual yang sakral (wali) tentu saja tidak setiap saat dipentaskan, biasanya pada saat-saat tertentu saja sebagai sarana untuk “melukat” (membersihkan desa).Desa adat Kuta, setiap tahunnya selalu mengadakan pertunjukan ini menjelang odalan pura dalem desa tersebut .Untuk wilayah Desa Adat Kuta, kegiatan ini dimulai dari setra adat (kuburan umum) yang letaknya dekat hotel Paradiso dan puncaknya diselenggarakan di depan atau pertigaan pasar Kuta.
Drama ritual magis yang melakonkan kisah-kisah yang berkaitan dengan ilmu sihir, ilmu hitam maupun ilmu putih, dikenal dengan Pangiwa atau Pangleakan dan Panengen. Lakon- lakon yang ditampilkan pada umumnya berakar dari cerita Calon Arang, sebuah cerita semi sejarah dari zaman pemerintahan raja Airlangga di Kahuripan (Jawa Timur) pada abad ke IX. Karena pada beberapa bagian dari pertujukannya menampilkan adegan adu kekuatan dan kekebalan (memperagakan adegan kematian bangke-bangkean, menusuk rangda dengan senjata tajam secara bebas) maka Calon Arang sering dianggap sebagai pertukan adu kesaktian (batin). Dramatari ini pada intinya merupakan perpaduan dari tiga unsur penting, yakni Babarongan diwakili oleh Barong Ket, Rangda dan Celuluk, Unsur Pagambuhan diwakili oleh Condong, Putri, Patih Manis (Panji) dan Patih K eras (Pandung) dan Palegongan diwakili oleh Sisiya-sisiya (murid-murid). Tokoh penting lainnya dari dramatari ini adalah Matah Gede dan Bondres. Pertunjukan Calon Arang bisa diiringi dengan Gamelan Semar, Pagulingan, Bebarongan, maupun Gong Kebyar. Dari segi tempat pementasan, pertunjukan Calon Arang biasanya dilakukan dekat kuburan (Pura Dalem) dan arena pementasannya selalu dilengkapi dengan sebuah balai tinggi (tranjangan atau tingga) dan pohon pepaya.
Pagelaran Calon Arang berlangsung hangat dan dipenuhi penonton. Di menit-menit terakhir memasuki tengah malam, peristiwa magis secara perlahan muncul.Saat Calon Arang yang sesungguhnya ditampilkan, kekuatan magis dan mistik menyeliputi area stage Jagatnatha, penonton pun dibuat tegang, suara-suara menantang dan mengundang leak menambah suasana semakin menakutkan. Hingga saat Calon Arang ngereh dan terjadi peristiwa menusuk diri dan saling menusuk antar teman,  seorang penonton yang berada ditengah keramaian tiba-tiba kerauhan. Hal tersebut membuat suasana semakin mengerikan. Akibatnya penonton yang kerauhan tersebut dikerubungi penonton lainnya dan akhirnya sadar dengan sendirinya. Diduga orang yang kerauhan tersebut saat menonton membawa benda magis atau mempelajari ilmu tertentu, tapi karna mungkin ilmunya lebih rendah, orang tersbut tidak kuat menahan hawa panas yang datang dari pemain Calon Arang, hingga dia menjadi kerauhan.
3.3 Nilai Magis dalam Film Calon Arang
Dalam bentuk film cerita Calon Arang mengalami transformasi bentuk yang pada awalnya berbentuk teks tertulis mengalami ekranisasi atau peleyarputihan naskah. Seperti halnya drama, naskah Calon Arang ini mengalami perubahan bentuk menjadi dialog. Naskah tertulis ini mengalami perubahan bentuk menjadi adegan-adegan yang divisualisasikan. Apabila dalam drama naskah divisualisasikan dalam pentas langsung, maka dalam bentuk film ini naskah divisualisasikan melalui media perekam yaitu kamera film yang pada setiap waktu yang diinginkan film ini dapat diputar. Mengenai isi naskahnya sendiri, dalam bentuk film ini, cerita Calon Arang tak mengalami perbedaan jauh dengan cerita yang berkembang di masyarakat yaitu pada akhir cerita Calon Arang meninggal dan manggali tetap diperistri Empu Barada.
Calon Arang adalah tokoh dalam cerita rakyat Jawa da Bali dari abad ke-12. Tidak diketahui siapa yang mengarang cerita ini.Salinan teks latin yang sangat penting berada di Belanda,yaitu di Bijdragen Institut.(wikipedia.com).Dalam makalah ini Calon arang ditransformasi ke dalam beberapa bentuk diantaranya novel,sendratari,drama dan film. Transformasi teks Calon arang ini dari segi lisan maupun tulisan.
Dongeng Calon arang diatas transformasi dalam berbagai bentuk,diantaranya transformasi dalam bentuk novel,drama,sendratari,dan film. Secara garis besar ,dongeng Calon arang yang di transformasi dalam bentuk novel,drama,sendratari, dan film menceritakan tentang seorang wanita jahat  bernama Calon arang yang murka terhadap rakyat Bali karena mereka selalu mencemooh putri kesayangannya,manggali. Kemurkaannya sempat teredam ketika datang seorang pria bernama Mpu Baradah yang datang melamar putrinya,sebenarnya Mpu Baradah diutus menikahi Manggali untuk mencari kelemahan calon arang dan menghentikan sifat jahat Calon arang. Jadi,dapat disimpulkan bahwa dongeng Calon arang mengalami proses penciptaan kembali dengan cara ekspansi atau pengembangan perluasan baik isi maupun fungsi.
            Berikut ini adalah ekranisasi atau usaha sebagai bagian dari transformasi bentuk dari cerita aslinya.
Judul                          : Ratu Sakti Calon Arang
Sutradara                   : Sisworo Gautama
Produser                    : Ram Soraya
Pemeran Utama        : Barry Prima, Suzanna
Pemeran Pembantu  : Amoroso Katamsi, Diana Suarkom, Didin Syamsuddin, Dorman Borisman, HIM Damsjik, Johny Matakena, Linda Husein, Ratna Debby Ardi, Tina Winarno
Keterangan Publikasi
Jakarta                              : Soraya Intercine Film, 1985
Deskripsi Fisik                 : Film Berwarna, 75 menit
Media                               : Film layar lebar
Subjek                               : Film laga legenda
Bahasa                                : Indonesia
Penulis Skenario                       : I Gusti Jagat Karana
Penata Artistik                       : M. Affandi SM
Penata Suara                           : Endang Darsono
Penata Musik                          : Frans Haryadi
Penata Foto                             : Thomas Susanto
Penyunting                                : Muryadi
3.4 Nilai magis dalam novel calon arang karya pramoedya ananta toer ,sendratari calon arang dan film calon arang

Tabel Korpus

3.1 Nilai Magis yang Terdapat dalam Novel Calon Arang
Korpus Data
Nilai Magis yang Terdapat dalam Novel Calon Arang

KD1
Calon Arang dan muridnya memuja Dewi Durga sambil memuja murid-muridnya dan menari.Seperti kawanan orang gila nampaknya.Dalam menari-nari itu mereka melangkah berputar-putar.Tak karuan tariannya.Yang satu tidak sama dengan yang lain.Seorang menjelir-jelirkan lidah seperti ular.Yang lain mendelik-delik menakutkan.Yang lain lagi maring-miring dan kakinya dipendekkan.” (Pramoedya, 2003:13)


Tabel Korpus
            3.2 Nilai Magis yang Terdapat dalam Dramatari atau Sendratari Calon Arang           
Korpus Data
Nilai Magis yang Terdapat dalam Dramatari atau Sendratari Calon Arang
KD1
Hingga saat Calon Arang ngereh dan terjadi peristiwa menusuk diri dan saling menusuk antar teman,  seorang penonton yang berada ditengah keramaian tiba-tiba kerauhan. Hal tersebut membuat suasana semakin mengerikan. Akibatnya penonton yang kerauhan tersebut dikerubungi penonton lainnya dan akhirnya sadar dengan sendirinya. Diduga orang yang kerauhan tersebut saat menonton membawa benda magis atau mempelajari ilmu tertentu, tapi karna mungkin ilmunya lebih rendah, orang tersbut tidak kuat menahan hawa panas yang datang dari pemain Calon Arang, hingga dia menjadi kerauhan.



Tabel Korpus
3.3 Nilai Magis dalam Film Calon Arang
Korpus Data
Nilai Magis dalam Film Calon Arang
KD1
bentuk film ini, cerita Calon Arang tak mengalami perbedaan jauh dengan cerita yang berkembang di masyarakat yaitu pada akhir cerita Calon Arang meninggal dan manggali tetap diperistri Empu Barada.














BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan penelitian maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut ini. Bahwa nilai magis yang benar-benar nyata dapat dilihat terdapat dalam pertunjukan seni sendratari atau dramatari Calon Arang. Dramatari ritual magis yang melakonkan kisah-kisah yang berkaitan dengan ilmu sihir, ilmu hitam maupun ilmu putih, dikenal dengan Pangiwa atau Pangleakan dan Panengan. Lakon-lakon yang ditampilkan pada umumnya berangkar dari cerita Calon Arang, sebuah cerita semi sejarah dari zaman pemerintahan Raja Airlangga di Kahuripan (Jawa Timur) pada abad ke IX karena pada beberapa bagian dari pertunjukannya menampilkan adu kekuatan dan kekebalan (mempragakan adegan kematian bangke-bangkean,menusuk rangda dengan senjata tajam secara bebas)maka Calon Arang sering di anggap sebagai pertunjukan adu kesaktian(batin).Dramatari ini pada intinya merupakan perpaduan dari tiga unsur penting,yakni Babarongan di wakili oleh barong ket,rangda,dan celuluk,unsur pagambuhan diwakili oleh Condong,putri,patih manis(Panji)danpaih keras(pandung)dan palegongan diwakili oleh sisya-sisya(murid Calon Arang). Belakangan ini drama tari Calon arang,termasuk kesenian lainnya yang sejenis. Seperti wayang Calon arang,Arja Calon arang,cenderung menjadi garang dan menantang dengan ditonjolkannya adegan-adegan yang memperlihatkan pameran kekebalan dan kekuatan batin. Biasanya sendratari calon arang dipentaskan pada saat tertentu saja. Sebagai sarana   melukat (membersihkan desa). Kegiatan ini dimulai dari setra adat(kuburan umum) dan puncaknya diselenggarakan didepan atau pertigaan pasar Kuta.
Dalam makalah ini Calon arang dapat ditransformasikan kedalam beberapa bentuk diantaranya,novel,drama,sendratari,dan film. Transformasi teks calon arang ini dari segi lisan maupun tulisan.


4.2 Saran
Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa hasil penelitian ini banyak kekurangan dan masih jauh dikatakan sempurna sebagai sebuah penelitian sastra yang baik. Maka dari itu peneliti memberikan beberapa saran kepada para peneliti lanjut yang menggunakan novel Calon Arang sebagai obyek penelitian. Adapun saran-saran penelitian adalah sebagai berikut:
1)      Lebih memperbanyak buku-buku sastra sebagai referensi sehingga kajian yang ditampilkan akan lebih luas dan mendalam.
2)      Hasil analisis nilai magis dalam novel Calon Arang, pertunjukkannya dapat dijadikan aspek dalam berbagai telaah sastra terutama kegiatan apresiasi sastra.
3)      Hasil penelitian ini merupakan hasil deskripsi novel Calon Arang pertunjukkannya serta filmnya ditinjau dari nilai magis yang terdapat di dalamnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembanding apresiasi sastra.




DAFTAR PUSTAKA
Aminudin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru
Abdullah, Taufik (Ed), 1990. Sejarah Lokal di Indonesia. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
Hardjana, Andre. 1981. Kritik Sastra : Sebuah Pengantar. Jakarta : Gramedia.
http;//id.wikipedia.org/wiki/Calon_Arang
Katalog film Indonesia 1926-1995/JB Kristianto. Jakarta: Grafisari Mukti, 1995
Perpustakaan Nasional RISinematek Indonesia Pusat Dokumentasi Seni: Bidang Film
Ananta Toer, Pramoedya. 2003.Calon Arang. Jakarta.
Jassin, HB 1968. Angkatan 66: Prosa dan Puisi. Jakarta: Gunung Agung

SOSIO-PSIKOLOGI-SASTRA

MENGKRITISI STRUKTUR KEPRIBADIAN TOKOH UTAMA “AKU”
DALAM NOVEL “PUDARNYA PESONA CLEOPATRA”
Karya: Habiburrahman El Shirazy

Disusun untuk menyelesaikan tugas akhir semester gajil 2009-2010
Mata kuliah: sosio-psikologi sastra
Dosen pembimbing: Drs. Gatot Sarmidi M,pd



 Oleh :
Andhika Nugroho
NIM: 080401080018


PROGAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
2012




Abstrak
Penelitian ini bertujuan:
1.      Melengkapi ujian akhir semter ganjil  mata kuliah sosio psikologi sastra
2.      Mendeskripsikan struktur kepribadian yang membangun novel Pudarnya Pesona Ceopatra karya Habiburrahman El Shiraizy dengan menggunakan teori kepribadian Sigmund Freud, objek yang di penelitian adalah aspek kepribadian tokoh AKU (tokoh utama) dalam novel Pudarnya Pesona Cleopatra karya Habiburahman El Shirazy secara psikologis, sumber data yang dipakai adalah sumber data primer dan sumber data skunder, teknik pengumpulan data dalam penelitian ini kepustakaan, teknik analisis yang digunakan adalah teknik membaca secara structural sehingga dapat disimpulkan bahwa tema dalam novel Pudarnya Pesona Cleopatra karya Habiburrahman El Shiraizy adalah”kesetiaan seorang istri kepada suaminya”alur dalam novel Pudarnya Pesona Cleopatra menggunakan alur maju, tokoh dalam novel pudarnya pesona Cleopatra yaitu terdiri tokoh utama(“aku” dan Raihana) dan tokoh tambahan (ibu, pak Qalyubi, Aida, Ibu mertua, yu Imah, pak Agung, pak Hardi dan pak Susilo) liatar daam Pudarnya Pesona Cleopatra menggunakan daerah tempat (kota Solo, Malang dan Puncak), latar waktu yaitu mulaiantara tahun 1988 sampai 2007, dan latar social (kebudayaan islami dan suasana lingkungan pendidikan).











BAB 1 PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
Karya sastra merupakan hasil imajinasi manusia yang bersifat indah dan dapat menimbulkan kesan yang indah pada jiwa pembaca, imaji adalah daya fikir untuk membayangkan atau menciptakan gambar-gambar kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang. Manurut genernya karya sastra dapat didagi menjadi tiga, yaitu prosa (fiksi),puisi dan drama dari ketiga jenis gener tersebut penulis hanya memfokuskan kajiannya pada prosa fiksi, supaya pemahaman kita lebih sistematis terlebih dahulu akan diuraikan pengertian prosa (fiksi)penurut bbeberapa tokoh. Prosa dalam kesastraan juga disebut fiksi, teks (naratif) atau wacana naratif, hal ini berarti prosa (fiksi)merupakan cerita rekaan yang tidak di dasarkan pada kebenaran sejarah, salah satu contoh prosa fiksi tersebut adalah novel. Novel merupakan prosa yang panjan, mengandung rangkaian kehihupan seseorang dengan orang-orang disekelilingnya dengan watak dan sikap prilaku. Prosa fiksi (novel)di bangun oleh unsure instrinsik dan unsure ekstrinsik. Unsure instrinsik adalah unsure yang membangun prosa fiksi dari dalam seperti alur, tema, plot, amanat dan lain-lain, sedabgkan unsure ekstrinsikadalah unsure yang membangun sastra dari luar sepertipendidikan, agama, filsafat, psikologi dan lain-lain,
Dari beberapa unsur instrinsik yang teleh disebutkan , penulis hanya memfokuskan penelitiannya pada kepribadian tokoh  berdasarkan teori kepribadian psikologi sastra, penulis hanya mencoba melakukan penelitian mengenai tokoh utama (AKU)dalam novel PPC karya Habibirruahman El Shiraizy. Novel tersebut dianalisis berdasarkan pendekatan psikologi kepribadian yang di kemukakan oleh Sigmund Freud, penulis memilih novel PPC sebagai objek kajian karena tokoh utama(AKU)dalam novel tersebut mempunyai kepribadian yang bersifat dinamis. Kedinamisan tingkah laku tokoh utama disebabkan oleh penggunaan sistem energy kepribadian yaitu Id, Ego, Super ego. Menurut Sigmund Freud kepribadian manusia dapat di bagi menjadi tiga yaitu: struktur kepribadian, dinamika kepribadian, dan perkembangan kepribadian , ketiga aspek kepribadian tersebut tergambar dalam tingkah lakutokoh utama (AKU) dalam novel PPC karya Habiburrahman El Shiraizy,
Setelah penulis melakukan pengamatan dan pengidentifikasian awal terhadap novel PPC di temukan bahwa tersebut bersifat penuh kelembutan dan kesetiaan, aspek ego yang berfungsi sebagai pemberi pertimbangan dominan, sehingga tokoh utama bersifat implus, Hal ini semakin memperkuat keinginan penulis untuk menjedikan novel tersebut sebagai objek kaijan. Badrun (2005:37) mengatakan untuk mengimplikasikan teori kepribadian dalam rangka membahas sifat tokoh cerita, langkah pertama yang dilakukan adalah mengamati dan mengidentifikasi prilaku dan watak tokoh. Sebagai penulis muda yang berbakat Habiburrahman mampu mengantarkan karya-karyanya denga nuansa islami yang amat kental sehingga banyak novel-novelnya sebagai media dakwah. Novel PPC di beri sebutan sebagai novel psikologi islami pembangun jiwa, karena novel ini mampu member nafas baru bagi penggemarsastra yang ingin mendapat ilmu agama sekaligus membangun kejiwaan.
 Karya karya Habiburrahman banyak di gemari penikmat sastra dari kalangan remaja maupun orang tua, selain itu Habiburrahman sering mandapat penghargaan seperti dari Pena Award sebagai karya terpuji, The Most Favorit Book2005, peraih fiksi dwasa terbaik IBF Award 2006. Sampai saat ini teori yang paling banyak digunakan dan diacu sebagai pendekatan psikologis adalah Determinisme psikologi Sigmund Freud (1856-1939). Meskipun pada awalnya pendekatan psikologis dianggap agak sulit berkembang, tetapi dengan makin diminatinya pendekatan multidisiplin di satu pihak, pemahaman beru terhadap teori –teori psikolgi sastra di pihak lain, maka pendekatan psikologis di harapkan dapat menghasilkan model-model penelitian yang lebih beragam.
Berpijak pada uraian latar belakang diatas, maka penulis tertarik untukmeneliti salah satu karya Habiburrahman El Shiraizy yang berjudul Pudarnya Pesona Cleopatra.
1.2  Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, masalah yang akan di bahas dalam penelitian ini adalah mengenai kepribadian tokoh utama dalan novel PPC karya Habiburrahman El Shiraizy, supaya mempermudah peneliti dalam menganalisis kepribadian tokoh, dapat dirumuskan sud masalah sebagai berikut:
1.      bagaimana struktur kepribadian yang berkaitan dengan Id tokoh utama “AKU”dalam novel PPC karya Habiburahman El Shiraizy?
2.      Bagaimana kah struktur kepribadian yang berkaitan dengan Ego tokoh utama ”AKU” dalam novel PPC karya Habiburahman El Shiraizy?
3.      Bagaimana kah struktur kepribadian yang berkaitan dengan Super Ego tokoh utama “AKU” dalam novel PPC karya Habiburahman El Shiraizy?

1.3  Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk:
1.      Mendiskripsikan struktur kepribadian yang berkaitan dengan Id, tokoh utama “AKU” pada novel PPC karya Habiburrahman El Shiraizy.
2.      Mendiskripsikan struktur kepribadian yang berkaitan dengan Ego, tokoh utama “AKU” pada novel PPC karya Habiburrahman El Shiraizy.
3.      Mendiskripsikan struktur kepribadian yang berkaitan dengan Super Ego, tokoh utama “AKU” pada novel PPC karya Habiburrahman El Shiraizy.
1.4  Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian yang dapat di peroleh dari hasil penelitian ini adalah dapat meningkatkan pengetahuan penulisdan pembaca tentang stuktur kepribadian manusia khususnya kepribadian tokoh utama dalam novel PPc karya Habiburahman El Shiraizy.



















BABII  SINOPSIS NOVEL

Judul              : Pudarnya pesona Cleopara
Pengarang      : Habiburahman El Shiraizy
Penerbit         : Republika
Tahun             : 2008
Cetakan ke     :Tujuh belas
Jumlah hal      : 111
Berikut ini adalah synopsis novel “Pudarnya Pesona Cleopatra”
Kisah ini berawal dari tokoh AKU yang harus menikah dengan gadis jawa bermana RAIHANA pilihan ibunya yang sama sekali tidak dikenal. Gadis itu adalah putrid teman ibunya dan merupakan janji tersirat untuk “besanan”antara dua orang sahabat yang sama-sama lulusan pesantren Mangkuyudan Solo.
Terjadilah pergulatan jiwa dalamdiri AKU, antara kecewa dan tidak mau mengecewakan sang ibu yang dicintainya, pergulatan jiwa tersebut adalah Aku yang selama ini memimpikan untuk memilki istri seorang gadis mesir yang cantik (karena AKU adalah lulusan Perguruan tinggi meesir)dan tidak mau dijodohkan dengan gadis pilihan sang ibu yang sama sekali bukan hasratnya selama ini.
Tetapi pernikahan itu berlangsung juga, hari-hari diisi dengan kebencian yang mendalam dari si AKU terhadap RAIHANA yang dengan tulus mencintainya. Diam, acuh, dan sinis perlakuan itulah yang setiap hari diterima oleh RAIHANA, sedangkan manis, setia dan penuh cinta selalu dipersembahkan oleh RAIHAN terhadap suainya tercinta yakni AKU. Pergolakan batin selalu tercipta dengan kebencian yang luar biasa, Hingga suatu saat AKU harus mengikuti acara pelatihan di tempat yang jauh dan RAIHANA sementara tinggal bersama ibu nya sampai proses kelahiran buah cintanya, buah cinta yang tercipta dengan terpaksa, 6 bulan setelah menikah tak sedikit pun Aku menyentuh tubuh indah RAIHAN akan bisa di bayangkan betapa sakitnya batin perempuan karena pergolakan batin si AKU sellalu tercipta dengan kebencian yang luar biasa.
Saat pelatihan si AKU bertemu dengan rekan sesame pelatihan yang sedang mengalami kehamcuran akibat beristrakan seorabg gadis mesir yang juga cantik, Diceritakanlah bagaimana sulitnya menyatukan dua budaya yang berbeda menjinakan karakter istri yang keras tak bernorma sampai akhirnya ia harus menanggung kehancuran moril dan materil.
Si AKU menyadari bahwa dia mmelakukan kesalahan besar dalam kehidupan rumah tangganya kerena Aku telah menyia-nyiakan istri cantik khas Indonesia yang selama ini setia, memberikan keiklasan dengan kasih sayang, dan sangat menyanjung suami seperti yang biasa dilakukanistri-istri suku jawa , bahkan kuat menghadapi sikap suami menyebalkan seperti si AKU yang berlangsung selama setahun pernikahan mereka.
Si AKU ingin segera pulang dan berniat berlutut meminta maaf di pangkuan RAIHANA iastri yang selama ini  tersiksa batinnya, istri yang selalu memuliakan dan mencintai suami karena Allah SWT, tetapi RAIHANA bukan lah Cleopatra, RAihana ahnya gadis dari lokal  
Tetepi memiliki keselehan hati yang luar biasa. Dan dalam hal itu telah disia-siakan oleh Aku yang harus menelan penyesalan besar kerena belum sempat meminta maaf serta janji akan menjadi suami yang setia, menghormati istri dengan segenap hati dan menyanjungnya lebih dari kepada Cleopatra yanga telah pudar terkalahkan oleh bersinarnya pesona RAIHANA yang meninggal saat AKu tidak berada disisinya
















BAB III PEMBAHASAN

A.     Struktur kepribadian berdasarkan Id tokoh utama “AKU”

Id adalah kepribadian yang dibawa sejak lahir, Id berisikan semua aspek psiklologis yang diturunkan seperti insting, implus dan drive. Id beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan, yaitu berusaha memperintah oleh kenikmatan adalah keadaan yang relative, inikatif dan rasa sakit adalah tegangan atau peningkatan energi yang mendamba kepuasan, ID hanya mampu membanyangkan sesuatu tanpa membedakan khayalan itu dengan kenyataan yang benar-benar memuaskan sesuatu, Id tidak mampu membedakan yang benar dan yang salah, tidak tahu moral. jadi harus harus di kembangkan untuk memperoleh khayalan itu secara nyata, yang member kepuasan tanpa menimbulkan tegangan baru khususnya moral alasan ini lah yang kemudian membuat ID memunculkan ego.
Id dalam tokoh utama AKU, adalah seorang yang berbakti kepda orang tuanya terutama kepada ibunya apapun akan dilakukan untuk menyenangkan hati sang ibu tetapi satu hal yang menjadikan AKU memiliki watak keras kepala, egois dan tidak mau menerima takdir serta tidak bisa menghargai orang yang mencitainya dengan tulus, seperti dalam penjelasan Id diatas bahwa Id berisikan aspek psikologis yang diturunkan seperti insting , implus dan drive, tetapi Id si AKU tidak mempunyai implus karena prinsip kenikmatan nya adalah keadaan yang tidak relatif kepuasan dalam khayalan, khayalan yang terlalu berperan dalam kehidupan si AKU yang teropsesi pada kecantikan gadis mesir, si AKU hanya bermain-main pada dunia khayalnya, hingga tidak bisa melihat dan tidak bisa menerima kenyataan hidupnya, kenyataan yang harus memperistri perempuan jawa yang mepunyai kecantikan khas Indonesia pilihan ibunya. Disinilah si AKU merasakan rasa  sakit yang menimbulkan tegangan atau peningkatan energi yang mendambakan kepuasan, kepuasan itu teletak pada obsesinya, obsesi pda kecantikan gadis mesir, dan kehilangan moralnya sehingga bersikap tidak bermoral kehidupan nyata nya,




B.     Struktur kepribadian berdasarkan ego tokoh utama “AKU”

Ego berkembang dari Id agar orang mampu menangani realitas, sehingga ego beroperasi mengikuti prinsip realita, usaha memperoleh kepuasan yang dituntut Id dengan mencegah terjadinya tegangan baru atau menunda kenikmatan sampai menemukan objek yang nyata dan dapat memuaskan kebutuhan, Ego adalah eksekutif atau pelaksana dari kepribadian yang memiliki tugas utama yakni, pertama, memilki stimulasi yang mana hendak direpon dan insting mana yang akan dipuaskan sesuai prioritas kebutuhan. Kedua, menentukan kapan dan bagaimana itu dipuaskan
Ego dari tokoh utama AKU dalm novel ini lebih mengutamakan insting khayalan  dari pada kenyataan, bedasarkan pengertian ego diatas, ego adalah eksekutif atau pelaksana dari kepribadian yang mempunyai tugas utama, yang sebelumnya sudah dijelaskan kepribadian si AKU dalam pembahasan struktur kepribadian berdasarkan Id tokoh AKU, yang lebih mengutamakan kepuasannya dalam khayalannya dari pad kehidupannya, khayalan yang terobsesi pada pesona kecantikan gadis mesir dan sangat mendambakan gadis mesir utuk diperistrinya, sedangkan kenyataan yang di hadapi si AKU adalah terpaksa memperistri perempuan asli Indonesia pilahan ibunya yang tak kalah cantiknya dengan gadis masir, karena si AKU merasakan tegangan dan peningkatan energi dari dorongan Id yang sedemikian rupa sehingga memunculkan Ego yang keras yang berhimbas pada istrinya, karena Ego berangkat dari Id maka Ego si AKU ini menjadikan si Aku ini keras kepala, egois dan bersikap acuh kepada istri yang dinikahi karena terpaksa didalam novel ini sosok si AKU ini bersikap kejam kepada istrinya yaitu RAIHANA kaerena Id si AKU yang berlankut pada Ego yang sedemikian rupa.

C.     Struktur Kepribadian berdasarkan Super Ego tokoh utama “AKU”
Super Ego adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian yang memakai prinsip idealistik sebagai lawan dari prinsip kepuasan Id dan prinsip realistik dari Ego, ada tiga fungsi dari Super ego:
1.      Mendorong Ego menggantikan tujuan-tujuan realistik  dangan moralistik
2.      Memerintah implus Id, terutama implus seksual yang bertentangan dengan standart nilai masyarakat
3.      Mangejar kesempurnaan .
Karena Super ego masih berhubungan dengan Id dan Ego,dan dilihat dari sifat Super ego yang nonrasional maka sebelumnya telah di paparkan atau sudah di jelaskan mengenai Id dan Ego tokoh si AKU, sesuai dengan fungsi dari Super ego diatas, Super Ego dalam tokoh si AKU ini mendorong Ego mengantikan tujuan-tujan realistic dengan moralistik. Setelah si AKU mendengar cerita pengalaman hidup rekannya saat pelatihan di puncak bahwa gadis mesir tak sebaik perempuan Indonesia pada umumnya dan sulitnya menyatukan dua budaya yang berbeda, menjinakan karakter gadis mesir yang keras tak bernorma dan sampai akhirnya ia harus menanggung kehancuran moril dan materil. Di sinilah ego si AKU merubah tujuan realitiknya ubtuk memperistri gadis mesir dan menyadari kesalahannya yang telah menyia-nyia kan istri yang selama ini telah setia dan selalu memberinya penuh kasih sayang dan perhatian nya dalam novel ini di ceritakan tentang janji-janji si aku yang ingin memuliakan istrinya dengan penuh keiklasan dan cinta kasih karena selama 6 bulan pernikahannya istrinya tak pernah mendapatkan  kebutuhan biologisnya, hingga suatu hari istri nya meminta untuk dimuliakan layaknya sebagai istri yang sah itu pun dengan rasa mengiba dan atas belaskasihan si Aku memuliakannya dengan terpaksa dan dengan ketidak ikhlasan karena si Aku masih mendambakan sosok gadis masir. Dari sini lah Super ego menghukum kesalahan deri Ego baik yang di lakukan maupun baru dalam pikiran untuk menuju kesempurnaan. Setelah si AKU mengetahui kesalahannya dan yakin atas kesalahan yang di perbuat kepada istrinya munculah dalam pikiran si AKU untuk meminta maaf kepada istrinya atas semua kesalahannya yang telah dilakukannya, namun sayang disaat si Aku telah mengakui kesalahannya dan ingin meminta maaf dan mamulai hidup bahagianya bersama istri dan anak yang ada dalam kandungannya, Tuhan berkahendak lain istrinya RAIHANA telah meninggal saat proses kelahiran anak pertamanya, buah hati yang tercipta atas keterpasksaan si AKu. Ini lah bentuk Super ego yang menghukum kesalahan dari Ego.




BABVI  PENUTUP


Inilah diantaranya aspek-aspek kepribadian psikologis  berdasarkan teori Freud, tokoh utama  AKU  dalam novel Pudarnya Pesona Cleopatra karya Habiburahman El Shiraizy, Novel ini di persembahkan begi mereka yang menomor satukan kecantikan, novel ini sarat dengan makna, kita dapat lebih memahami hidup lebih jauh bahwa cinta sesame akan berakhir akan tetapi cinta kepada sang Pencipta akan tetap ada sampai di alam lain, Analisis novel ini hanyalah hasil yang sangat kecil karena penulis menyadari keterbatasan tentang katya-karya sastra. Semoga karya tulis ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca, kita sama-sama tengah mencari makna hidup dan kehidupan.